18% Anak Muda Merasa Konseling ke Psikolog Bukan Hal Wajar

Masih tabu, sebanyak 18,1% anak muda menganggap konseling ke psikolog sebagai sesuatu yang tidak wajar.

Pandangan Anak Muda Terkait Konseling dengan Psikolog/Psikiater

(Tahun 2026)
Ukuran Fon:

Kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kesehatan mental terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, stigma terhadap layanan psikolog ternyata masih belum sepenuhnya hilang di kalangan anak muda Indonesia.

Berdasarkan survei Muda Bicara ID, sebanyak 18,1% anak muda menganggap konseling ke psikolog sebagai sesuatu yang tidak wajar. Sementara itu, mayoritas lainnya, yakni 81,9%, menilai konsultasi dengan psikolog merupakan hal yang wajar dilakukan.

“Stigma negatif terhadap layanan kesehatan jiwa telah memudar secara signifikan di kalangan anak muda, di mana konsultasi ahli kini dipandang sebagai langkah solusi yang rasional, bukan hal yang memalukan,” tulis Muda Bicara ID dalam laporannya.

Baca Juga: 15,5 Juta Remaja Indonesia Mengalami Masalah Kesehatan Mental

Meski jumlahnya lebih kecil dibanding kelompok yang berpandangan positif, angka 18,1% menunjukkan stigma terhadap isu kesehatan mental masih cukup kuat di masyarakat. Sebagian orang masih menganggap pergi ke psikolog hanya diperlukan bagi mereka yang mengalami gangguan mental berat.

Padahal, layanan psikolog dapat dimanfaatkan siapa saja, termasuk untuk mengelola stres, tekanan akademik, masalah pekerjaan, hubungan sosial, hingga pengembangan diri.

Pandangan negatif terhadap konseling juga kerap dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial, budaya, hingga kurangnya edukasi mengenai kesehatan mental.

Namun, generasi muda memang lebih terbuka dalam menyikapi masalah gangguan mental. Media sosial, kampanye publik, hingga meningkatnya diskusi tentang kesehatan mental membuat anak muda kini lebih terbuka untuk mencari bantuan profesional ketika menghadapi tekanan emosional maupun psikologis. Sejalan dengan itu, 58,3% responden mengaku saat ini mengalami isu kesehatan mental, sedangkan yang mengaku tidak mengalami hanya 35%.

Adapun Survei Nasional Muda Bicara ID ini dilakukan pada 1-30 Maret 2026 dengan melibatkan 800 responden berusia 17-40 tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui computer-assisted self interviewing, sementara pemilihan sampel menggunakan stratified random sampling untuk memastikan sampel terpilih dapat menjadi representasi proporsional dari setiap subkelompok populasi.

Baca Juga: Ini Dia Faktor Penyebab Gangguan Kesehatan Mental Mahasiswa RI

Sumber:

https://www.mudabicara.id/kajian/rilis-laporan-survei-nasional-muda-bicara-id-q1/

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook