5 Provinsi dengan Potensi Kerugian Ekonomi Terbesar Akibat Karhutla pada 2026
Berdasarkan kajian CELIOS, Kalimantan Barat mencatat potensi kerugian ekonomi akibat karhutla terbesar, mencapai Rp5,77 triliun.
5 Provinsi dengan Potensi Kerugian Ekonomi Terbesar Akibat Karhutla
(Tahun 2026)
Unduh
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membawa dampak ekonomi yang besar bagi Indonesia. Persoalannya bukan hanya luas lahan yang terbakar atau asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga hilangnya aset dan terganggunya berbagai kegiatan ekonomi di wilayah terdampak.
Baca Juga: 10 Negara dengan Karhutla Terparah di Dunia 2026, Apakah Ada Indonesia?
Kajian Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bertajuk Yang Sesak Napas dan Yang Membayar Kerugian Ekonomi Kebakaran Hutan memperkirakan total biaya ekonomi akibat karhutla sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai Rp29,54 triliun. Angka tersebut belum memperhitungkan kemungkinan meluasnya karhutla hingga akhir 2026.
Angka Rp29,54 triliun merupakan hasil valuasi CELIOS atas hilangnya aset fisik dan aktivitas ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan. Perhitungannya mengacu pada sejumlah kajian mengenai biaya ekonomi kebakaran, termasuk kajian World Bank dan Kiely dkk. (2021).
CELIOS mencatat estimasi kerugian sekitar Rp85 juta per hektare berdasarkan kajian World Bank untuk kebakaran 2015, Rp45 juta per hektare untuk kajian 2019, serta sekitar Rp147 juta per hektare untuk biaya ekonomi dan restorasi berdasarkan Kiely dkk. (2021).
Dalam pengolahannya, CELIOS tidak hanya menghitung kerugian dari aset yang terbakar. Dampak terhadap aktivitas perdagangan, pertanian, serta akomodasi dan makanan-minuman juga diperhitungkan karena sektor-sektor tersebut dapat mengalami kontraksi ketika karhutla mengganggu kegiatan ekonomi.
Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan potensi kerugian ekonomi terbesar akibat karhutla, yakni mencapai Rp5,77 triliun. Besarnya kerugian ini sejalan dengan luas wilayah yang terbakar yang mencapai 38.310,86 hektare, tertinggi dibandingkan provinsi lainnya.
Di posisi kedua terdapat Papua Barat dengan potensi kerugian ekonomi sebesar Rp4,37 triliun. Selanjutnya, Nusa Tenggara Timur mencatat kerugian sekitar Rp2,74 triliun, disusul Nusa Tenggara Barat sebesar Rp2,64 triliun dan Riau sebesar Rp2,59 triliun.
Secara keseluruhan, CELIOS mencatat kerugian ekonomi karhutla berasal bukan hanya dari aset yang terbakar, tetapi juga aktivitas perdagangan, pertanian, serta akomodasi dan makanan-minuman yang mengalami kontraksi akibat kebakaran.
Besarnya potensi kerugian tersebut menunjukkan bahwa karhutla memiliki konsekuensi ekonomi yang luas. Selain kerusakan lingkungan, aktivitas masyarakat dan perekonomian daerah turut menghadapi tekanan ketika kebakaran terjadi. Dengan demikian, penanganan karhutla tidak hanya penting untuk menjaga ekosistem, tetapi juga untuk mengurangi potensi kerugian ekonomi yang harus ditanggung masyarakat dan pemerintah daerah.
Baca Juga: Sentimen Publik RI terhadap Penanganan Karhutla di Media Online
Sumber:
https://celios.co.id/the-hidden-cost-of-fire-economic-and-health-impacts-of-forest-and-land-fires-in-indonesia-2026/
Ditulis oleh Annisa Rendanianti
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini:
Artikel Terkait
Tren Harga Daging Ayam Ras dan Kampung Semester I 2026
Tren Notifikasi Kosmetik Indonesia, Terus Naik 5 Tahun Terakhir
Persebaran WNA di Jakarta pada 2025, Jaksel Teratas
DIY Jadi Provinsi dengan Cagar Budaya Terbanyak 2026