Perubahan kondisi sosial dan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir menegaskan semakin meningkatnya peran perempuan sebagai pencari nafkah utama dalam rumah tangga. Hal ini dikenal dengan istilah female breadwinner, yakni perempuan yang bekerja dan memiliki penghasilan paling dominan di antara anggota rumah tangga lainnya, atau bahkan menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarga.
Baca Juga: 14% Pekerja Indonesia adalah Female Breadwinners, Siapa Mereka?
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dari aspek capaian pendidikan, mayoritas female breadwinners masih berlatar belakang pendidikan dasar. Sebanyak 55,84% perempuan pencari nafkah utama memiliki tingkat pendidikan dasar, yakni belum atau tidak tamat SD, tamat SD, hingga tamat SMP.
Sementara itu, female breadwinners dengan pendidikan menengah tercatat sebesar 27,97%, dan hanya 16,19% yang berlatar belakang pendidikan tinggi. Data tersebut menggambarkan bahwa perempuan dengan pendidikan rendah justru lebih banyak mengambil peran sebagai tulang punggung ekonomi keluarga.
Menariknya, seiring meningkatnya jenjang pendidikan, persentase perempuan yang menjadi female breadwinner justru menurun. Perempuan dengan pendidikan tinggi cenderung menikah dengan pasangan yang memiliki penghasilan lebih tinggi. Kondisi ini membuat kebutuhan ekonomi rumah tangga dapat terpenuhi tanpa mengharuskan perempuan menjadi pencari nafkah utama, sehingga tingkat partisipasi kerja perempuan dari kelompok pendidikan tinggi relatif lebih rendah dibandingkan mereka yang berpendidikan dasar.
Selain faktor pendidikan, wilayah tempat tinggal turut memengaruhi pola female breadwinner. Sekitar 64,01% perempuan pencari nafkah utama tinggal di daerah perkotaan, sementara 35,99% berada di wilayah perdesaan. Dominasi perkotaan ini tidak terlepas dari lebih beragamnya peluang kerja yang tersedia, mulai dari sektor formal hingga informal, yang memungkinkan perempuan berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi.
Selain itu, norma sosial dan budaya di perkotaan umumnya lebih inklusif terhadap peran gender, sehingga perempuan bekerja lebih mudah diterima dibandingkan di perdesaan. Tingginya biaya hidup di perkotaan juga menjadi faktor pendorong perempuan untuk bekerja dan menopang kebutuhan rumah tangga.
Secara keseluruhan, fenomena female breadwinner mencerminkan dinamika sosial ekonomi yang semakin kompleks. Dominasi perempuan berpendidikan dasar sebagai pencari nafkah utama menjadi pengingat bahwa peran tersebut kerap lahir dari keterbatasan, bukan semata pilihan.
Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan, serta perlindungan kerja bagi perempuan, agar peran mereka sebagai tulang punggung keluarga tidak hanya menjadi bentuk ketahanan ekonomi, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: Fenomena Female Breadwinners: Bukti Tangguhnya Perempuan Indonesia
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/19/8b3f563d24b4a2bbfe307544/-analisis-isu-terkini-2025.html