Berdasarkan survei Kawula17, sebanyak 58% responden menyatakan tidak puas terhadap program pengadaan 19 juta lapangan pekerjaan dari pemerintah, menjadikannya sebagai salah satu kebijakan yang didominasi oleh penilaian negatif dari publik Indonesia.
Tingkat ketidakpuasan yang hampir setara dengan 6 dari 10 orang ini menandakan adanya keraguan publik terhadap efektivitas program dalam menjawab persoalan ketenagakerjaan yang masih menjadi tantangan negara.
Sementara itu, sebesar 24% publik menyebut sangat puas dengan rencana pemerintah untuk menyediakan 19 juta lapangan pekerjaan, mencerminkan bahwa masih adanya responden yang menilai program ini memiliki potensi untuk membuka peluang kerja.
Baca Juga: Gen Z Jadi Penyumbang Pengangguran Terbesar di Indonesia pada 2025
Di sisi lain, sebanyak 18% responden mengaku agak puas terhadap program ini. Kelompok ini cenderung berada di posisi moderat yang melihat adanya kemungkinan manfaat dari kebijakan yang direncanakan pemerintah untuk mengatasi isu pengangguran di Indonesia.
Jika menilik data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia cenderung fluktuatif dalam beberapa periode terakhir. Tercatat pada November 2025, TPT di Indonesia sebesar 4,74% dengan jumlah pengangguran mencapai 7,35 juta orang.
Angka tersebut menunjukkan adanya perbaikan jika dibandingkan dengan periode Agustus 2025 yang mencatatkan tingkat pengangguran sebesar 4,85% dengan total pengangguran mencapai 7,46 juta orang.
Namun, penurunan ini menjadi catatan penting mengingat pada periode Februari 2025, tingkat pengangguran sempat berada di angka 4,76% dengan jumlah 7,28 juta orang.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Republik Indonesia (RI) Yassierli mengaku optimis target pemerintah untuk membuka 19 juta lapangan kerja dapat tercapai dalam periode kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
"Kalau 19 juta itu dibagi lima tahun, nanti kita lihat dan saya optimis. Ini baru tahun pertama, tapi sudah terlihat tren berbagai inisiatif luar biasa yang saya yakin akan menciptakan lapangan kerja," ujar Yassierli dalam konferensi pers di kantornya, Senin (20/10/2025).
Menurutnya, terdapat sejumlah program prioritas pemerintah yang memiliki efek ganda, yaitu tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi namun juga membuka banyak lapangan kerja baru.
Ia menyebut beberapa program, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pembangunan desa nelayan, serta kebijakan hilirisasi industri dan bantuan perumahan rakyat. Menurutnya, semuanya berkontribusi langsung terhadap penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor.
"Kalau kita lihat secara jujur, upaya-upaya itu memang diarahkan untuk memberikan solusi bagi masyarakat, meningkatkan ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja," tegasnya.
Pengumpulan data dalam survei bertajuk National Kawula17 Survey Q4 2025 ini dilakukan dengan metode kuantitatif melalui Computer-Assisted Self Interviewing (CASI) secara online. Survei dilakukan pada tanggal 16-19 Januari 2026 dengan melibatkan 400 responden berusia 17-44 tahun, memperoleh margin of error 5%.
Baca Juga: Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia Turun Akhir 2025
Sumber:
https://kawula17.id/publikasi