80% Jurnalis Indonesia Pernah Lakukan Swasensor, Apa Alasannya?

Alasan utama swasensor didominasi oleh upaya menghindari konflik atau kontroversi berlebihan (70%) serta untuk melindungi sumber informasi (63%).

Alasan Jurnalis Melakukan Swasensor

(Tahun 2025)
Ukuran Fon:

Kebebasan pers merupakan salah satu pilar penting dalam demokrasi. Pers berperan menyampaikan informasi, mengawasi kekuasaan, serta menjadi ruang kontrol publik terhadap kebijakan negara. Namun, seiring dinamika sosial dan politik yang semakin kompleks, praktik jurnalistik di Indonesia menghadapi tantangan baru. Salah satunya adalah fenomena swasensor, yang kemudian melahirkan apa yang kerap disebut sebagai “tabu baru” dalam jurnalistik, yakni isu-isu tertentu yang cenderung dihindari atau dibatasi dalam pemberitaan.

Baca Juga: Potret Hambatan Liputan Jurnalis pada Tahun Pertama Prabowo-Gibran

Yayasan Tifa bekerja sama dengan Konsorsium Jurnalisme Aman dan Populix merilis laporan Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025. Survei ini melibatkan 655 jurnalis aktif yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa praktik swasensor dialami oleh mayoritas jurnalis. Sebanyak 523 responden, atau setara 80%, mengaku pernah melakukan swasensor dalam proses peliputan maupun penulisan berita.

Alasan jurnalis melakukan swasensor cukup beragam, faktor paling dominan adalah keinginan untuk menghindari konflik atau kontroversi yang berlebihan, dengan proporsi 70%. Selain itu, 63% jurnalis menyebut perlindungan terhadap sumber atau informasi rahasia sebagai pertimbangan utama dalam membatasi pemberitaan. Faktor keselamatan pribadi juga menjadi alasan bagi 27% jurnalis.

Sementara itu, 13% responden menyatakan pernah mengalami tekanan dari pihak tertentu, baik dari pemerintah, pihak berkepentingan, maupun kebijakan perusahaan atau keputusan editorial. Di samping itu 12% menyebut pengalaman menerima respons negatif atas pemberitaan sebelumnya sebagai pemicu swasensor dan sebagian kecil lainnya, yakni 2%, mengungkapkan alasan di luar faktor-faktor tersebut.

Jenis isu yang paling sering mengalami swasensor pun menunjukkan pola yang jelas. Liputan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi topik yang paling banyak dibatasi dengan persentase 58%, disusul isu Proyek Strategis Nasional (PSN) sebesar 52%. Hal ini menunjukkan bahwa isu kebijakan publik strategis masih dianggap sensitif.

Fenomena swasensor menunjukkan bahwa jurnalis kerap berada dalam situasi yang tidak mudah. Mereka harus menyeimbangkan antara tanggung jawab menyampaikan informasi kepada publik dan berbagai pertimbangan yang ada, seperti keamanan, etika, serta dampak sosial dari sebuah pemberitaan. Untuk itu, ke depan diperlukan upaya bersama untuk menghadirkan ekosistem yang lebih aman dan mendukung, agar jurnalis dapat bekerja secara independen, profesional, dan bebas rasa takut.

Baca Juga: 10 Topik Liputan Paling Sering Diswasensor, MBG Tertinggi!

Sumber:

www.tifafoundation.id/Media-IKJ2025.

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook