Perkembangan digital yang semakin pesat berdampak pada pola interaksi, transaksi, hingga proses belajar mengajar di kalangan masyarakat. Kehadiran internet seakan menembus batas yang tadinya dianggap tidak mungkin, seperti proses pembelajaran daring.
Digitalisasi dinilai membawa banyak kemudahan dan fleksibilitas bagi para peserta didik dan tenaga pengajar. Dengan bermodalkan internet dan perangkat digital, siapa pun dapat meraih kesempatan yang lebih baik agar masa depan semakin terjamin.
Namun, temuan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tujuan penggunaan internet tertinggi oleh peserta didik bukanlah untuk belajar, melainkan untuk mengakses hiburan, jumlahnya mencapai 92%.
Sejumlah inovasi, seperti kecerdasan buatan (AI), augmented reality (AR), dan virtual reality (VR) mendorong rasa penasaran masyarakat karena inovasi tersebut dipercaya mampu menawarkan pengalaman hiburan yang jauh lebih imersif dan interaktif. Hal ini salah satu yang mendorong tingginya penggunaan internet untuk hiburan.
Tujuan terbanyak berikutnya adalah untuk mengakses media sosial sebesar 69%. Kemudian, sebanyak 68% peserta didik menggunakan internet untuk mendapatkan informasi. Barulah 33% responden lainnya memanfaatkan internet untuk belajar daring.
Internet juga digunakan oleh 19% peserta didik untuk membeli barang/jasa secara daring, diikuti dengan membuat konten digital dan bertukar e-mail, masing-masing sebanyak 13%. Maraknya fenomena konten digital yang tersebar di berbagai kanal, seperti YouTube dan TikTok, mendorong kepercayaan bahwa kini setiap orang dapat menjadi bagian dari industri hiburan yang menawarkan peluang untuk memaksimalkan potensi diri.
Tujuan peserta didik menggunakan internet lainnya meliputi e-banking (5%) dan menjual barang/jasa (1%). Adapun 5% memilih tujuan lain.
Baca Juga: Jumlah Peserta Didik Disabilitas Berdasarkan Jenjang 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2025/11/21/d048070f37740b0e04d99350/statistics-of-education-2025.html