94% Rumah Tangga Penuhi Luas Lantai Ideal, Pimpin Standar Rumah Layak Huni 2026

Indikator kecukupan luas lantai per kapita berhasil menjadi komponen tertinggi dalam pemenuhan standar rumah layak huni di Indonesia lewat capaian 94,91%.

Akses Rumah Layak Huni Menurut Komponen Penyusun

(Tahun 2025-2026)

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis perkembangan data mengenai pemenuhan kualitas tempat tinggal masyarakat secara nasional. Persentase rumah tangga yang telah menempati hunian berstandar layak berhasil menyentuh angka 70,30% pada tahun 2026. Capaian tersebut merangkak naik bila disandingkan dengan rekam jejak pada tahun 2025 yang terhenti di level 68,40%.

Peningkatan taraf kelayakan ini digerakkan oleh tren positif pada empat komponen dasar penyusun rumah layak huni. Seluruh syarat mutlak yang mencakup ketahanan fisik hingga fasilitas penunjang kehidupan sehari-hari itu mencatatkan perluasan jangkauan secara merata.

Indikator kecukupan luas lantai per kapita sukses mendominasi tingkat pemenuhan tertinggi di tanah air lewat angka 94,91% pada tahun 2026. Parameter ini mengharuskan sebuah hunian memiliki ruang gerak minimal seluas 7,20 meter persegi untuk setiap anggota keluarga. Catatan terbaru ini membuktikan adanya perbaikan bertahap dari posisi 94,66% pada jadwal pendataan tahun sebelumnya.

Baca Juga: 10 Provinsi dengan Persentase Akses Rumah Layak Huni Tertinggi

Pemenuhan akses terhadap sumber air minum layak turut membuntuti dengan tingkat keterjangkauan masyarakat sebesar 93,71%. Ketersediaan layanan konsumsi air yang terlindungi ini bertumbuh secara konsisten dari perolehan tahun 2025 di level 93,22%.

Aspek ketahanan fisik bangunan pada akhirnya baru mampu dipenuhi oleh 87,52% rumah tangga. Kondisi ini perlahan membaik dari proporsi 87,10% meskipun masih diwarnai oleh polemik kualitas material pelindung cuaca. Sebanyak 9,34% rumah tangga ternyata masih menggunakan asbes sebagai bahan bangunan utama pada atap terluas mereka.

Ketersediaan akses terhadap fasilitas sanitasi layak justru menempati urutan paling bawah karena baru mengamankan porsi 86,73%. Meskipun persentasenya terangkat dari titik 85,37%, komponen kesehatan lingkungan ini membutuhkan dorongan intervensi paling besar agar seimbang dengan indikator lainnya.

Tantangan berat di bidang sanitasi sangat berkaitan erat dengan kebiasaan buang air besar sembarangan di berbagai daerah. Praktik yang mengancam kebersihan lingkungan tersebut rupanya masih dilakukan oleh 2,15% keluarga di Indonesia pada tahun 2026. Kenyataan ini menegaskan bahwa program peningkatan kualitas hunian tidak bisa lepas dari agenda rehabilitasi dan penyediaan instalasi sanitasi yang memadai.

Baca Juga: DI Yogyakarta Jadi Provinsi dengan Standar Rumah Paling Layak pada 2025

Sumber:

https://www.bps.go.id/id/publication/2026/08/31/777a9ca5c6cfd2a1d8626198/statistik-perumahan-2026.html

Demas Reyhan Adritama
Ditulis oleh Demas Reyhan Adritama

IT & Sports Enthusiast

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc