Indonesia ternyata masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan smartphone dalam negeri. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), impor smartphone ke Indonesia mencapai 1,47 juta ton dengan nilai menyentuh US$2,97 triliun. Beratnya meningkat dari tahun sebelumnya yang sebanyak 1,12 juta ton dengan nilai US$1,94 triliun.
Dari tahun ke tahun, impor smartphone ke Indonesia terus meningkat. Pada 2021, Indonesia mengimpor 1,06 juta ton smartphone, yang kemudian naik menjadi 1,1 juta ton pada tahun berikutnya.
Memasuki 2023, impor smartphone Indonesia sedikit turun menjadi 1,06 juta, namun kembali meningkat dalam dua tahun terakhir.
China menjadi pemasok utama smartphone ke Indonesia dengan volume mencapai 1,4 juta ton. Angka ini menunjukkan dominasi yang sangat kuat, bahkan hampir mencakup seluruh impor smartphone secara keseluruhan.
Baca Juga: Xiaomi Kuasai Pangsa Pasar Smartphone di Indonesia Kuartal II 2025
Di posisi berikutnya, kontribusi negara lain terlihat jauh lebih kecil. Singapura tercatat menyuplai 9,7 ribu ton semilai US$280,8 juta. Sementara itu, Amerika Serikat menyumbang 9,1 ribu ton senilai US$545,8 juta, Hong Kong sebesar 7,5 ribu ton senilai US$278,3 juta, dan Malaysia sebesar 7,2 ribu ton dengan nilai mencapai US$100,5 juta.
Struktur impor ini memperlihatkan ketimpangan yang sangat besar antara China dan negara lainnya. Hal ini tidak terlepas dari posisi China sebagai pusat manufaktur global untuk produk elektronik, termasuk smartphone. Banyak merek besar dunia memproduksi perangkatnya di negara tersebut, sehingga menjadikannya pemasok utama ke berbagai negara.
Peran Singapura di posisi kedua juga menegaskan perannya sebagai pusat logistik dan distribusi di kawasan Asia Tenggara. Barang yang masuk melalui Singapura kemungkinan merupakan produk yang didistribusikan ulang ke Indonesia dari berbagai negara.
Baca Juga: 98% Publik Indonesia Akses Internet Lewat Handphone, Tertinggi di Dunia
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2026/02/27/a43f03f45543dc4e9942f44c/statistik-indonesia-2026.html