Generasi muda sering kali dipuji karena kemampuan beradaptasi mereka yang sangat baik dibandingkan generasi sebelumnya. Meski begitu, ada banyak pengorbanan yang harus dilakukan generasi muda untuk menjawab tuntutan industri agar dapat cepat beradaptasi.
Pengorbanan ini menyebabkan generasi muda cenderung lebih mudah mengalami burnout atau kelelahan ekstrem secara emosional, fisik, dan mental. Berbeda dengan kelelahan biasa, burnout dapat menyebabkan penurunan motivasi kerja, performa, dan bahkan menumbuhkan sikap sinis atau negatif terhadap pekerjaan.
Dalam Indonesia Millenial and Gen Z Report 2026, terdapat empat alasan mengapa pekerja Milenial dan Gen Z sering mengalami burnout. Studi ini melibatkan 1.500 responden, dibagi rata antara Milenial dan Gen Z pada Februari hingga April 2025. Responden berasal dari 12 kota besar dan wilayah di seluruh Indonesia dengan persentase yang saat ini sedang bekerja adalah 74%.
Berdasarkan hasil survei, ditemukan bahwa 35% responden mengalami tekanan dari perusahaan untuk terus meningkatkan skill-nya. Meskipun peningkatan skill ini penting bagi pekerja dan perusahaan, banyak pekerja muda yang justru merasa kewalahan.
Sementara itu, 30% responden merasa burnout karena terus menerus dihadapkan dalam ketidakpastian dalam pekerjaan mereka. Ketidakpastian ini membuat pekerja muda merasa stres dan cemas secara berkepanjangan, sehingga dapat memicu burnout.
Beban kerja yang berat pun menjadi alasan 20% responden merasa burnout. Beban kerja sering kali melebihi kapasitas pekerja muda sehingga menimbulkan kelelahan emosional, fisik, dan mental.
Terakhir, kurangnya dukungan untuk terus berkembang menjadi pemicu burnout bagi 15% responden. Tuntutan untuk terus berkembang tanpa dukungan yang memadai dari perusahaan hanya membuat pekerja muda teris mendorong diri tanpa hasil yang signifikan.
Baca Juga: 1 dari 5 Anak Indonesia Berpotensi Fatherless, Apa Penyebabnya?
Sumber:
https://drive.google.com/file/d/1HyhDY1YGoSUgb-kfTmZ6uVq7dl0NMKVk/view?pli=1