Berbagai tantangan global yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir telah memengaruhi cara pandang anak muda terhadap masa depan. Ketidakpastian ekonomi, konflik antarnegara, perubahan iklim, hingga pesatnya perkembangan teknologi membuat generasi muda di berbagai belahan dunia menghadapi beragam kekhawatiran. Meski demikian, tidak semua isu dipandang memiliki tingkat urgensi yang sama.
Baca Juga: 10 Isu yang Perlu Diselesaikan Pemerintah Menurut Publik RI 2026
Untuk memahami hal tersebut, United Nations Population Fund (UNFPA) mengeluarkan Demographic Futures Survey 2026 yang dilaksanakan pada Kuartal IV 2025 hingga Kuartal I 2026 terhadap 108.926 responden di 73 negara dan teritori melalui kuesioner daring dengan metode self-administered online survey. Data dikumpulkan oleh Kantar Lightspeed dan GeoPoll, kemudian dianalisis menggunakan post-stratification weighting berdasarkan jenis kelamin, kelompok usia, dan tingkat pendidikan. Responden dalam survei ini merupakan laki-laki dan perempuan berusia 18-39 tahun yang memiliki akses internet sehingga hasilnya tidak mewakili populasi nasional.
Dalam survei ini, responden diminta menilai enam isu global menggunakan lima kategori jawaban, yaitu tidak mengkhawatirkan sama sekali, kurang mengkhawatirkan, netral, cukup mengkhawatirkan, dan sangat mengkhawatirkan. Persentase yang disajikan pada artikel ini merupakan akumulasi responden yang memilih cukup mengkhawatirkan dan sangat mengkhawatirkan pada setiap isu.
Hasil survei menunjukkan bahwa konflik dan risiko keamanan menjadi kekhawatiran terbesar anak muda dengan persentase 78,6%. Angka ini diikuti oleh ketidakpastian ekonomi dan kesenjangan sebesar 78%.
Kelompok isu berikutnya memiliki tingkat kekhawatiran yang relatif berdekatan. Risiko tata kelola pemerintahan dan politik memperoleh persentase 71,7%, sedangkan risiko kesehatan dan lingkungan mencapai 71,3%. Selain itu, perubahan demografi dan sosial dinilai cukup atau sangat mengkhawatirkan oleh 63,9% responden.
Di sisi lain, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi isu dengan tingkat kekhawatiran paling rendah dibandingkan lima isu lainnya. Meski demikian, 47,8% responden tetap menilai AI sebagai isu yang cukup atau sangat mengkhawatirkan. Laporan UNFPA juga mencatat bahwa proporsi responden yang memilih jawaban netral terhadap AI relatif lebih besar dibandingkan isu lainnya, yang menunjukkan pandangan terhadap perkembangan AI masih lebih beragam.
Secara keseluruhan, hasil survei ini menggambarkan bagaimana responden memandang berbagai tantangan global yang dihadapi saat ini. Perbedaan tingkat kekhawatiran pada setiap isu menunjukkan bahwa perhatian anak muda tersebar pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari keamanan hingga perkembangan teknologi.
Baca Juga: Bukan Pekerjaan, Hiburan Jadi Tujuan Utama Penggunaan AI 2026
Sumber:
https://www.unfpa.org/demographic-futures-survey