Kenapa Peserta Didik Indonesia Ogah Habiskan MBG?

Selain alasan internal berupa sudah kenyang (19,9%), faktor dari luar seperti makanan basi atau berbau (19,6%) menjadi sebab utama anak didik tidak habiskan MBG.

Alasan Anak Didik Indonesia Tidak Menghabiskan MBG

(Tahun 2025)
Ukuran Fon:

Berdasarkan survei yang dirilis oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan Wahana Visi Indonesia (WVI), alasan paling umum dari responden peserta didik yang tidak menghabiskan Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah merasa sudah kenyang, dengan proporsi mencapai 19,9%.

Namun, tampaknya persoalan ini bukan hanya sekadar soal nafsu makan. Dengan persentase yang hampir sama besar, 19,6% siswa menyebut MBG tidak dihabiskan karena makanan yang disajikan dalam kondisi basi atau berbau.

Bahkan jika ditinjau dari pengalaman menerima makanan yang rusak, basi, ataupun masih mentah dalam pelaksanaan program MBG, sebanyak 35,9% responden menyebut pernah mendapatkannya.

Walaupun lebih kecil dari persentase sebesar 64,1% anak didik yang belum pernah mengalami hal tersebut, angka ini tetap perlu mendapat perhatian dan mitigasi dari pemerintah mengingat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatatkan setidaknya terdapat 11,6 ribu kasus keracunan makanan akibat MBG sepanjang 6 Januari-6 Oktober 2025.

Faktor eksternal lainnya yang juga disebut adalah rasa makanan yang tidak enak dengan persentase 16,6%, menandakan bahwa aspek cita rasa masih menjadi pertimbangan kuat bagi anak-anak untuk mengonsumsi makanan yang diberikan.

Tak hanya itu, 8,9% peserta didik juga menyebut bahwa makanan yang mereka dapatkan terasa hambar atau tidak ada rasa dan 8% responden tidak suka menunya. Adapun 15,2% responden lainnya mengaku memiliki alasan lain yang tidak tercantum dalam daftar.

Survei bertajuk Kajian Suara Anak: Mengedepankan Perspektif Anak dalam Program Makan Bergizi Gratis ini dilakukan dengan melibatkan 1.624 responden anak berusia 12-17 tahun yang telah menerima program MBG lebih dari sekali melalui pendekatan penelitian yang dipimpin oleh anak atau Child-Led Research (CLR) dan Listening to Children (LtC) dengan metode convenience sampling.

Pengumpulan data kuantitatif dilaksanakan secara online pada 11 Juli-1 Agustus 2025 untuk kemudian diperkuat secara kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD) pada 2 dan 9 Agustus 2025.

Baca Juga: Apa Saja Hal yang Tidak Disukai Anak Didik Indonesia dari MBG?

Sumber:

https://cisdi.org/riset-dan-publikasi/publikasi/kajian-suara-anak-mengedepankan-perspektif-anak-dalam-program-mbg

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook