Kinerja Penjualan Eceran Diproyeksi Turun pada September 2026

Indeks Penjualan Riil (IPR) pada September 2026 diperkirakan sebesar 221,3 atau turun sebanyak 1,5% dari nilai pada Agustus yang mencapai 226,5.

Tren Indeks Penjualan Riil (IPR)

(Januari-September 2026)

Indeks Penjualan Riil (IPR) merupakan indikator ekonomi yang dihitung untuk mengukur kinerja penjualan eceran atau ritel di Indonesia.

Perhitungan ini dilaksanakan secara bulanan oleh Bank Indonesia (BI) terhadap kurang lebih 700 pengecer sebagai responden (purposive sampling) di 10 kota di Indonesia yang dihitung dengan metode balance score (net balance + 100) yang menunjukkan kondisi optimis untuk nilai indeks di atas 100 dan pesimis untuk skor di bawah 100.

Sepanjang tahun berjalan ini, tren pergerakan besaran IPR di Indonesia cenderung mengalami fluktuasi yang cukup tinggi dalam kuartal pertama. Memasuki pertengahan tahun, dinamika fluktuasi kinerja penjualan ritel tersebut mulai mereda.

Baca Juga: Penjualan Eceran Diperkirakan Tumbuh 0,9%, Keyakinan Konsumen Malah Turun

Mulanya pada Januari 2026, besaran IPR tercatat sebesar 223,6. Tingkat optimisme penjualan eceran ini kemudian naik 4,1% dan mencapai 232,7 pada periode Februari.

Memasuki periode Maret 2026, tren penjualan eceran melonjak hingga tumbuh 10,3% menjadi 256,7 poin. Angka ini menjadi nilai IPR tertinggi, sekaligus sebagai raihan kinerja penjualan eceran terbaik di Indonesia sepanjang tahun 2026 berjalan.

Namun setelahnya, kinerja penjualan ritel mengalami penyusutan hingga 11,6%, membuat posisinya anjlok menjadi 226,9 pada April 2026.

Meski tidak sesignifikan periode sebelumnya, tren kualitas penjualan eceran kembali turun pada bulan Mei 2026. Pada periode ini, IPR kembali turun 1,5% menuju angka 223,4.

Pertumbuhan tipis terhadap IPR kembali terjadi pada Juni 2026. Kualitas penjualan eceran naik sebesar 0,7%, menjadikan nilainya menyentuh 225.

Laju pertumbuhan ini cenderung stagnan pada bulan berikutnya. Pada Juli 2026, terjadi penyusutan tipis sebesar 0,04% yang membuat nilai IPR menjadi 224,9.

Pada Agustus 2026, besaran IPR kembali tumbuh 0,7% dan menyentuh 226,5. Meski membaik, BI memproyeksikan kualitas kinerja penjualan eceran pada September 2026 akan kembali menurun. IPR diprediksi akan mengalami penyusutan bulanan dengan persentase 2,3%, atau dengan indeks 221,3.

Meskipun diproyeksikan mengalami tren pelemahan secara bulanan (month-to-month/mtm), kinerja penjualan eceran pada September 2026 ini meningkat secara tahunan. Indeks penjualan ritel ini diprediksi tumbuh 1,4% year-on-year (yoy), melampaui pertumbuhan tahunan pada bulan Agustus yang hanya 1,3% (yoy).

“Peningkatan penjualan tersebut didorong oleh kenaikan penjualan pada Kelompok Barang Lainnya, Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi. Secara bulanan, penjualan eceran pada September 2026 diprakirakan terkontraksi sebesar 2,3% (mtm) terutama dipengaruhi oleh penurunan pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau,” terang Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam siaran pers yang dirilis pada Jumat (9/10/2026).

Adapun indikator IPR ini digunakan untuk menggambarkan tren konsumsi rumah tangga pada tingkat eceran, sekaligus menjadi tolok ukur utama yang mencerminkan daya beli masyarakat secara riil.

Baca Juga: Indeks Keyakinan Konsumen Turun Tipis pada September 2026

Sumber:

https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2821726.aspx

Key Insights

  • Fluktuasi IPR yang tinggi di kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan ketidakpastian awal tahun dalam pola konsumsi ritel.
  • Puncak IPR di Maret 2026 sebesar 256,7 kemungkinan besar dipengaruhi oleh momentum bulan Ramadan dan persiapan Idul Fitri.
  • Penurunan IPR yang signifikan di April dan Mei 2026 mengindikasikan dampak perlambatan konsumsi pasca-periode hari raya keagamaan.
  • Proyeksi penurunan IPR secara bulanan di September 2026, meskipun naik secara tahunan, menunjukkan adanya pergeseran pola belanja konsumen dari kebutuhan primer ke barang diskresioner.
Shahibah A
Ditulis oleh Shahibah A

Jurnalis data GoodStats Data

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc