Konsumsi Kelas Menengah Tumbuh Paling Lambat pada 2025

Pertumbuhan konsumsi kelas menengah tercatat paling rendah dibanding kelas lain, di angka 4,1% secara tahunan.

Pertumbuhan Konsumsi per Kapita Menurut Kelas

(Tahun 2025)
Ukuran Fon:

Menurut dara Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Mandiri Institute, pertumbuhan konsumsi per kapita kelas menengah Indonesia tercatat paling rendah dibanding kelas lain.

Pembagian kelas ekonomi dalam data ini mengacu pada standar pengelompokan berbasis tingkat pengeluaran atau konsumsi per kapita yang ditetapkan oleh World Bank. Masyarakat dikelompokkan ke dalam lima kategori utama, yakni miskin, rentan miskin, menuju kelas menengah, kelas menengah, dan kelas atas, berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan terhadap garis kemiskinan. Pembagiannya adalah sebagai berikut.

  • Miskin: kurang dari 1 kali dari garis kemiskinan
  • Rentan miskin: 1-1,5 kali dari garis kemiskinan
  • Menuju kelas menengah: 1,5-3,5 kali dari garis kemiskinan
  • Menengah: 3,5-17 kali dari garis kemiskinan
  • Atas: lebih dari 17 kali dari garis kemiskinan

Baca Juga: Daya Beli Masyarakat Kelas Menengah Kian Menurun, Apa Penyebabnya?

Kelompok kelas atas mencatat pertumbuhan konsumsi tertinggi, yakni 6,8%. Angka ini menunjukkan daya beli kelompok teratas masih relatif kuat, bahkan tumbuh lebih cepat dibanding lapisan ekonomi lainnya.

Di bawahnya, kelompok rentan miskin mencatat pertumbuhan sebesar 5%, sedikit lebih tinggi dibanding kelompok menuju kelas menengah yang tumbuh 4,8%. Sementara itu, kelompok miskin mengalami pertumbuhan konsumsi sebesar 4,7%.

Terakhir, kelas menengah justru mencatat pertumbuhan paling rendah, yakni 4,1%. Padahal, kelompok ini selama ini dikenal sebagai penopang utama konsumsi domestik. Laju yang lebih lambat ini bisa menjadi sinyal adanya tekanan terhadap daya beli kelas menengah, baik dari sisi inflasi, cicilan, maupun beban pengeluaran lainnya.

Jumlah penduduk kelas menengah juga turun, dari 47,9 juta pada 2024 menjadi 46,7 juta pada 2025.

Menurut Ekonom UGM, Dr. Wisnu Setiadi Nugroho, turunnya jumlah kelas menengah salah satunya diakibatkan jumlah pekerjaan yang tersedia. Kini banyak lapangan kerja baru yang sifatnya survival-based, hanya cukup untuk bertahan hidup, namun tidak untuk naik kelas.

“Ekonomi gig, kerja informal, dan pekerjaan berproduktivitas rendah memang menyerap tenaga kerja. Namun pekerjaan seperti ini jarang menyediakan stabilitas pendapatan, jaminan sosial, atau jalur karier yang jelas. Orang bekerja keras, tetapi tangga sosialnya tidak bertambah panjang,” terangnya di Kampus UGM, Rabu (18/2/2026).

Untuk menjawab persoalan ini, diperlukan keberanian untuk menciptakan pekerjaan yang mampu membuka mobilitas dan membangun bantalan risiko terutama bagi kelompok menuju kelas menengah.

“Jaminan kehilangan pekerjaan dan asuransi sosial perlu menjangkau pekerja non-formal, dan skema pembiayaan perumahan dan pendidikan harus dirancang agar kelompok near-middle tidak tergelincir hanya karena satu guncangan,” katanya.

Baca Juga: Penduduk Kelas Menengah Indonesia Turun Kelas

Sumber:

https://www.instagram.com/p/DUZlj2Mj26A/?img_index=1

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook