Pada 27 Desember 2025, komika Pandji Pragiwaksono merilis pertunjukan spesial stand-up comedy bertajuk Mens Rea secara global melalui Netflix. Tayangan ini segera memantik perhatian publik karena mengusung kritik sosial dan politik yang tajam, berani, serta menyentuh isu-isu sensitif. Sebagai figur publik yang kerap menyampaikan kritik melalui komedi, karya terbaru Pandji tidak hanya dinikmati sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bahan perbincangan serius di media sosial dan media online.
Baca Juga: Pelanggaran Kebebasan Berekspresi Terus Naik, 68 Orang Sudah Jadi Korban
Berdasarkan data Drone Emprit, isu Mens Rea oleh Pandji Pragiwaksono diberitakan dalam 624 artikel media online dengan total 954 mentions. Sementara itu, di media sosial tercatat sebanyak 19.787 sample mentions yang berasal dari berbagai platform, yakni Twitter/X, Facebook, Instagram, TikTok, serta media online. Pengumpulan data dilakukan pada periode 26 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026 pukul 23.59 WIB. Objek penelitian difokuskan pada Mens Rea oleh Pandji Pragiwaksono dengan kata kunci “Pandji”, “Mensrea”, dan “Mens Rea”.
Menariknya, analisis sentimen menunjukkan perbedaan yang cukup kontras antara media online dan media sosial. Pemberitaan media online cenderung bernada negatif, dengan sentimen negatif mencapai 56,2%, disusul sentimen positif 34,8%, dan netral 9%. Sebaliknya, warganet justru merespons Mens Rea secara lebih positif. Di media sosial, sentimen positif mendominasi sebesar 66,1%, sementara sentimen negatif tercatat 15,2% dan sentimen netral 18,7%.
Puncak pemberitaan dan percakapan di media sosial terjadi pada 6 Januari 2026 dengan 2.699 mentions. Lonjakan ini dipicu oleh kritik dari Tompi yang menilai materi Pandji Pragiwaksono terkait mata Gibran sebagai bentuk body shaming. Situasi semakin memanas seiring munculnya narasi “Pandji Darurat Ide” yang ramai diperbincangkan dan diduga digerakkan oleh buzzer untuk menyerang balik sang komika.
Meski diwarnai kontroversi, sentimen positif tetap mendominasi percakapan publik di media sosial sebesar 66,1%. Sentimen positif yang berkembang antara lain berkaitan dengan pencapaian Mens Rea yang memuncaki tayangan Netflix Indonesia sebagai Top 1. Selain itu, kritik politik Pandji dinilai tajam, berani, dan disampaikan tanpa sensor, serta dianggap mampu mewakili keresahan publik. Tidak sedikit pula warganet yang menunjukkan solidaritas melalui doa dan apresiasi terhadap Pandji.
Di sisi lain, sentimen negatif tetap muncul meski dalam porsi lebih kecil yaitu sebesar 15,2%. Selain tudingan body shaming, sebagian pihak menilai gaya komedi Pandji melampaui batas etika dan berpotensi memicu kebencian serta polarisasi. Kritik dari Tompi pun teramplifikasi luas, memperkuat narasi kontra terhadap Mens Rea. Polemik ini menunjukkan bahwa komedi politik di Indonesia masih menjadi ruang tarik-menarik antara kebebasan berekspresi dan sensitivitas publik.
Baca Juga: 71% Publik Indonesia Merasa Tidak Aman Berekspresi di Media Sosial
Sumber:
https://x.com/DroneEmpritOffc/status/2009115576871080278