Indonesia merupakan salah satu negara dengan hutan terluas di dunia, bahkan sering kali disebut sebagai paru-paru dunia. Luas hutan di Indonesia menyumbang sekitar 2% dari total hutan global. Sayangnya, Indonesia terus kehilangan hutannya dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2020, Indonesia masih memiliki 94 Mha hutan alam, yang membentangi lebih dari 50% luas daratannya. Hanya dalam kurun waktu empat tahun, Indonesia telah kehilangan 260 kha hutan alamnya.
Kehilangan hutan Indonesia ini disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah deforestasi besar-besaran. Namun, apa saja faktor pendorong deforestasi di Indonesia?
Menurut Global Forest Watch, terdapat tiga pendorong deforestasi yang menyebabkan luas tutupan hutan di Indonesia menurun secara signifikan sejak tahun 2001 hingga 2024.
Pendorong utama deforestasi adalah permakultur. Permakultur merupakan sistem desain berkelanjutan yang meniru ekosistem alami untuk menciptakan cara hidup yang ramah lingkungan dan mandiri. Contoh permakultur adalah pertanian dan perkebunan, pembangunan perumahan yang berkelanjutan, taman hujan, dan sebagainya.
Meski klaimnya ramah lingkungan, permakultur ternyata menjadi penyebab dibabatnya hutan di Indonesia seluas 23 Mha. Hal ini berarti, sekitar 73,4% hutan yang telah hilang dan dialihkan menjadi permakultur.
Selain itu, usaha untuk memperoleh komoditas keras atau produk yang biasanya diperoleh melalui ekstraksi besar-besaran atau kegiatan pertambangan juga menjadi faktor pendorong deforestasi di Indonesia. Usaha ekstraksi dan pertambangan ini berkontribusi dalam penghilangan hutan di Indonesia sebanyak 2,2% atau sekitar 720 kha.
Pembangunan pemukiman dan infrastruktur pun mendorong pembukaan lahan dengan deforestasi. Sekitar 0,4% hutan Indonesia telah dialihfungsikan menjadi pemukiman dan infrastruktur. Angka ini setara dengan 120 kha hutan yang mengalami deforestasi.
Baca Juga: Indonesia Peringkat Ke-2 Negara dengan Deforestasi Terbesar
Sumber:
https://www.globalforestwatch.org/dashboards/country/IDN/?lang=id