RAPBN 2027: Target Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan Tumbuh 3%
Pada tahun 2027, pemerintah menargetkan penerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB) negara akan menyentuh Rp28,6 triliun.
Tren Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan
(2022-2027)
Unduh
Berdasarkan Buku II Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran (TA) 2027, pemerintah menetapkan target penerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB) negara mencapai Rp28,6 triliun.
Proyeksi target penerimaan PBB ini mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,5% jika dibandingkan dengan outlook 2026. Hingga akhir tahun berjalan ini, realisasi penerimaan PBB negara diperkirakan hanya menyentuh angka Rp27,6 triliun.
Jika menilik tren dalam kurun waktu empat tahun terakhir, tren penerimaan PBB cenderung mengalami penyusutan, meskipun sempat mencatatkan kenaikan pada awal periode.
Baca Juga: Target Penerimaan Pajak Penghasilan Sentuh Rp1.277 T dalam RAPBN 2027
Dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2022, realisasi penerimaan PBB mencapai Rp23,3 triliun. Angka ini kemudian mengalami pertumbuhan hingga 43%, menjadikan total penerimaan PBB negara menyentuh Rp33,3 triliun pada tahun 2023.
Melesatnya kinerja penerimaan PBB pada masa itu ditopang oleh peningkatan setoran dari sektor mineral dan batu bara (minerba) serta minyak dan gas bumi (migas), dipadukan dengan kuatnya harga komoditas global.
Pencapaian tersebut sekaligus menjadikan tahun 2023 sebagai periode dengan besaran dan pertumbuhan penerimaan PBB tertinggi dalam empat tahun ke belakang.
Sayangnya, tren positif tersebut tidak bertahan lama. Setelah mencapai puncaknya, penerimaan PBB negara mulai mengalami fase penurunan selama tiga tahun berturut-turut. Memasuki tahun 2024, realisasi setoran PBB susut sebesar 2,3%, menyisakan nominal Rp32,5 triliun.
Penyusutan ini kian terjadi pada tahun berikutnya. LKPP 2025 mencatatkan bahwa besaran penerimaan PBB negara kembali turun hingga 9,9%, menjadikan nilainya hanya Rp29,3 triliun.
Merosotnya angka penerimaan pajak ini dipengaruhi oleh fase normalisasi dari sektor sumber daya alam dan melemahnya harga beberapa komoditas utama dunia jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Fase penurunan ini masih terus terjadi hingga penghujung tahun 2026. Mengacu pada outlook 2026, pemerintah memproyeksikan realisasi penerimaan PBB akan turun sebesar 5,6%.
Meski persentase penurunannya tidak semasif periode sebelumnya, tekanan terhadap target penerimaan PBB ini masih bersumber dari berlanjutnya tren normalisasi harga komoditas, serta terbatasnya pertumbuhan basis penerimaan dari sektor pertambangan dan migas.
Didorong oleh prospek membaiknya harga komoditas strategis, meningkatnya aktivitas produksi di sektor sumber daya alam, dan berkurangnya tekanan normalisasi, pemerintah optimis penerimaan PBB dalam postur RAPBN 2027 akan kembali bertumbuh.
Baca Juga: 69% Publik RI Merasa Pemerintah yang Paling Merasakan Manfaat Pajak
Sumber:
https://drive.google.com/file/d/1mUbNLalcb6aOhgPhOHW-QSiczOs8yb-Z/view?usp=sharing
Key Insights
- Target PBB Rp28,6 triliun di 2027 menunjukkan optimisme pemerintah setelah tiga tahun penurunan, didorong oleh prospek kenaikan harga komoditas dan aktivitas produksi.
- Ketergantungan penerimaan PBB pada sektor minerba dan migas menciptakan volatilitas, terbukti dari lonjakan 43% di 2023 saat harga komoditas tinggi, lalu diikuti penurunan signifikan saat normalisasi.
- Penurunan PBB selama 2024-2026 sebesar 2,3% dan 9,9% mencerminkan dampak normalisasi harga komoditas global dan terbatasnya pertumbuhan basis penerimaan sektor pertambangan.
- Meskipun target 2027 tumbuh 3,5% dari outlook 2026, nilai Rp28,6 triliun masih di bawah puncak Rp33,3 triliun di 2023, menandakan pemulihan yang bertahap.
Ditulis oleh Shahibah A
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini:
Artikel Terkait
RAPBN 2027: Pagu Fungsi Pertahanan Capai Rp329 T, Apa Saja Outputnya?
Perkembangan Luas Lahan Panen Jagung Januari-Oktober 2026