Sentimen Publik RI terhadap Kelangkaan BBM pada September 2026 di Media Online
Sebanyak 49,1% sentimen media online bernada negatif terhadap isu kelangkaan BBM, sementara 17,4% pemberitaan menunjukkan sentimen negatif.
Sentimen Publik RI terhadap Kelangkaan BBM di Media Online
(September 2026)
Unduh
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian publik di Indonesia sepanjang September 2026. Kondisi tersebut mencuat setelah masyarakat di sejumlah wilayah, terutama Sulawesi Selatan dan Kalimantan, menghadapi keterbatasan pasokan BBM yang menyebabkan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Persoalan ini turut menjadi perhatian karena berdampak pada aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Baca Juga: Wacana Pembatasan BBM Subsidi untuk Desil 9-10, Akankah jadi Solusi Adil?
Berdasarkan pemantauan Drone Emprit, isu kelangkaan BBM menuai 3.658 mentions di pemberitaan media online. Sementara itu, tercatat 32.199 sample mentions dari Twitter/X, Facebook, Instagram, TikTok, serta media online. Data tersebut dikumpulkan pada 1-21 September 2026 hingga pukul 23.59 WIB.
Analisis sentimen pada media online dan percakapan yang dipantau menunjukkan bahwa sentimen negatif menjadi proporsi terbesar, yakni 41,9%. Sementara itu, sentimen netral mencapai 40,7%, sedangkan sentimen positif berada di angka 17,4%.
Percakapan negatif terutama berkaitan dengan antrean BBM yang berlangsung hingga berjam-jam dan mengganggu mobilitas masyarakat. Kelangkaan juga disebut berdampak pada aktivitas ekonomi, pekerjaan, hingga kegiatan belajar.
Selain antrean, masyarakat turut menyoroti sulitnya memperoleh BBM subsidi. Percakapan mengenai pengalihan konsumen ke BBM subsidi serta dugaan penyalahgunaan oleh pihak tertentu juga muncul dalam pemberitaan dan percakapan publik.
Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin, Anas Iswanto Anwar, turut menyoroti persoalan distribusi BBM. Ia menyebut, apabila pasokan nasional dinyatakan cukup tetapi kelangkaan masih terjadi di SPBU, persoalan tersebut dapat berkaitan dengan distribusi dan ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan di wilayah tertentu.
“Kalau Pertamina menyatakan suplai secara total cukup, tetapi masyarakat tetap mengalami kelangkaan di SPBU, maka masalahnya kemungkinan bukan pada ketersediaan stok nasional, melainkan pada distribusi dan ketidakseimbangan antara pasokan dengan permintaan di lokasi tertentu,” ujarnya mengutip Tribunnews (11/9/2026).
Di sisi lain, sentimen positif mencapai 17,4%. Percakapan positif antara lain membahas pengembangan biofuel E50/B50 untuk mendukung kemandirian energi, jaminan pemerintah mengenai keamanan stok BBM nasional, serta penanganan kelangkaan dan antrean di sejumlah wilayah. Pembentukan satuan tugas untuk mengawasi distribusi BBM subsidi juga menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian positif.
Sementara itu, 40,7% percakapan bersentimen netral menunjukkan tingginya pembahasan yang berfokus pada informasi dan perkembangan situasi.
Baca Juga: Harga BBM Swasta September 2026, Berapa Selisihnya dengan Pertamina?
Sumber:
https://x.com/DroneEmpritOffc/status/2102662465767244277
Ditulis oleh Annisa Rendanianti
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini:
Artikel Terkait
10 Provinsi dengan Kerawanan Pangan Tertinggi 2025, NTT Paling Parah
Simak Rincian Nilai Tukar Pembudidaya Ikan Triwulan II 2026