Sentimen Warganet X terhadap Kelangkaan BBM pada September 2026
Sebanyak 82,5% percakapan di Twitter/X bernada negatif terhadap isu kelangkaan BBM, sementara 4,4% menunjukkan sentimen positif.
Sentimen Warganet Twitter/X terhadap Isu Kelangkaan BBM
(September 2026)
Unduh
Kelangkaan bahan bakar minyak atau BBM menjadi salah satu isu yang ramai diperbincangkan masyarakat pada September 2026, terutama di Sulawesi Selatan dan sejumlah wilayah Kalimantan. Antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU bahkan berdampak pada aktivitas harian masyarakat dan memunculkan keluhan di ruang digital. Di Sulawesi Selatan, antrean BBM terjadi di sejumlah SPBU Makassar dan daerah lainnya.
Baca Juga: Sentimen Publik RI terhadap Kelangkaan BBM pada September 2026 di Media Online
Berdasarkan pemantauan Drone Emprit, isu kelangkaan BBM menuai 3.658 mentions di pemberitaan media online. Sementara itu, tercatat 32.199 sample mentions dari Twitter/X, Facebook, Instagram, TikTok, serta media online. Data tersebut dikumpulkan pada 1-21 September 2026 hingga pukul 23.59 WIB.
Khusus di Twitter/X, sentimen negatif mendominasi percakapan dengan proporsi 82,5%. Sentimen netral mencapai 13,1%, sedangkan sentimen positif hanya 4,4%.
Tingginya sentimen negatif terutama berkaitan dengan pengalaman masyarakat menghadapi antrean panjang, kekhawatiran terhadap ketersediaan BBM, serta dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Percakapan di media sosial juga menyoroti kenaikan harga BBM eceran ketika masyarakat kesulitan mendapatkan pasokan di SPBU.
Di Makassar, misalnya, harga Pertalite eceran dilaporkan mencapai Rp35 ribu per botol besar, sementara masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.
Sejumlah tokoh turut memberikan pandangan mengenai persoalan tersebut. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, menyatakan bahwa pernyataan stok BBM nasional aman belum cukup untuk menjawab krisis yang terjadi secara bersamaan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan persoalan dalam tata kelola energi dan kapasitas institusi dalam menghadapi kondisi krisis.
"Kelangkaan BBM yang terjadi serentak dalam dua minggu terakhir di Sulawesi Selatan, Jawa, dan Sumatra menunjukkan buruknya tata kelola energi nasional dan lemahnya kapasitas institusi menghadapi krisis," ujarnya mengutip Suara.com (15/9/2026).
Di sisi lain, sentimen positif sebesar 4,4% muncul dari percakapan mengenai berbagai langkah penanganan kelangkaan BBM. Pembahasan tersebut mencakup penambahan pasokan, pengaturan antrean, hingga pemberian prioritas pelayanan bagi kelompok rentan.
Pemerintah bersama Pertamina juga melakukan sejumlah intervensi untuk memperkuat pasokan di wilayah terdampak. Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas menyebut pengiriman BBM ke Sulawesi Selatan ditambah, termasuk melalui penambahan mobil tangki.
"Sekarang meningkat sampai 1.300 KL per hari. Dahsyat enggak? Berarti dahsyat, ini pispot kita lakukan. Jumlah mobil tangki juga sudah disiapkan secara bergantian, semula 83 mobil tangki ditambahkan 25 mobil tangki, sekarang beroperasi adalah 108 mobil tangki," ujarnya, mengutip Antara (13/9/2026).
Data Drone Emprit menunjukkan bahwa isu kelangkaan BBM tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan energi. Persoalan distribusi, komunikasi publik, dan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat turut menjadi perhatian dalam percakapan digital. Pemulihan pasokan serta penyampaian informasi yang jelas menjadi bagian penting dalam merespons keresahan masyarakat.
Baca Juga: Nigeria Jadi Pemasok BBM Terbesar ke Indonesia, Total Impor Tembus 2,75 Juta Ton hingga Juli 2026
Sumber:
https://x.com/DroneEmpritOffc/status/2102662465767244277
Ditulis oleh Annisa Rendanianti
Jurnalis data GoodStats Data
Bagikan statistik ini: