Sentimen Publik terhadap Mens Rea Pandji Pragiwaksono di Media Online

Respon publik terhadap Mens Rea Pandji Pragiwaksono di media online didominasi sentimen negatif sebesar 56,2%.

Sentimen Publik terhadap Mens Rea Pandji Pragiwaksono di Media Online

(Desember 2025-Januari 2026)
Ukuran Fon:

Pada 27 Desember 2025, komika Pandji Pragiwaksono merilis pertunjukan spesial stand-up comedy bertajuk Mens Rea secara global melalui platform Netflix. Penayangan ini langsung menyita perhatian publik karena materi yang dibawakan Pandji dikenal sarat kritik sosial dan politik. Kehadiran Mens Rea tidak hanya menjadi perbincangan di ruang hiburan, tetapi juga memicu diskursus luas di media online dan media sosial.

Baca Juga: 71% Publik Indonesia Merasa Tidak Aman Berekspresi di Media Sosial

Berdasarkan data Drone Emprit, isu Mens Rea oleh Pandji Pragiwaksono diberitakan dalam 624 artikel media online dengan total 954 mentions. Sementara itu, di media sosial tercatat sebanyak 19.787 sample mentions yang berasal dari berbagai platform, yakni Twitter/X, Facebook, Instagram, TikTok, serta media online. Pengumpulan data dilakukan pada periode 26 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026 pukul 23.59 WIB. Hasil analisis sentimen menunjukkan bahwa di media online, sentimen negatif mendominasi dengan persentase 56,2%, disusul sentimen positif sebesar 34,8%, dan sentimen netral 9%.

Sentimen positif media online yang mencapai 34,8% menunjukkan adanya apresiasi terhadap Mens Rea sebagai karya komedi politik. Sejumlah media menyoroti pencapaian Mens Rea yang berhasil memuncaki peringkat Top 1 tayangan Netflix Indonesia. Selain itu, kritik politik yang disampaikan Pandji dinilai tajam, berani, dan disampaikan tanpa sensor, sehingga dianggap merepresentasikan keresahan publik terhadap situasi sosial dan politik saat ini.

Namun demikian, sentimen negatif media online justru mendominasi dengan persentase 56,2%. Salah satu isu utama adalah materi komedi Pandji yang menyinggung kondisi mata Gibran dan dinilai sebagai bentuk body shaming. Tompi, yang merupakan penyanyi sekaligus dokter secara terbuka mengkritik materi tersebut, menegaskan bahwa kondisi mata yang disebut “mengantuk” merupakan kondisi medis yang dikenal sebagai ptosis dan tidak pantas dijadikan bahan lelucon. Polemik ini kemudian berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas mengenai batas etika dalam komedi, khususnya ketika materi menyentuh kondisi fisik seseorang.

"Ptosis itu otot levator (kelopak mata) kepanjangan turun ke bawah, jadi mata dia tertutup, bukaan matanya tidak maksimal. Pada orang dewasa yang kasus seperti Pak Gibran, Pak Wapres, itu kondisi ptosisnya tidak terlalu berat," ujarnya mengutip ANTARA (06/01/2026).

Selain itu, pernyataan lama Pandji terkait budaya Toraja kembali mendapat sorotan dan momentum baru. Isu tersebut diangkat oleh Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Toraja (IMAJA) yang mendesak Bareskrim Polri untuk mengusut dugaan ujaran kebencian atau pelanggaran unsur SARA terkait pernyataan Pandji mengenai ritual Rambu Solo. Mereka menilai pernyataan tersebut merendahkan nilai-nilai luhur budaya masyarakat Toraja dan menuntut agar Pandji dikenakan sanksi adat serta diproses sesuai dengan hukum positif yang berlaku.

Secara keseluruhan, Mens Rea menegaskan posisi Pandji Pragiwaksono sebagai komika yang karyanya mampu memantik perdebatan publik, sekaligus mencerminkan dinamika kebebasan berekspresi di ruang digital Indonesia.

Baca Juga: Pelanggaran Kebebasan Berekspresi Terus Naik, 68 Orang Sudah Jadi Korban

Sumber: 

https://x.com/DroneEmpritOffc/status/2009115576871080278

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook