Di tengah upaya dunia mempercepat transisi menuju energi bersih, batu bara masih memegang peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi global.
Menurut laporan Reuters, Indonesia menjadi eksportir batu bara terbesar sepanjang 2025, menguasai 50% dari total pengiriman pada tahun tersebut. Tingginya kinerja ekspor batu bara Indonesia ini tidak lepas dari ketersediaan cadangan yang melimpah, biaya produksi yang kompetitif, hingga kedekatannya dengan pasar, di mana pasar utama batu bara Indonesia kebanyakan berada di wilayah Asia.
Baca Juga: 10 Negara dengan Cadangan Batu Bara Terbesar di Dunia
Filipina menjadi negara yang paling bergantung pada impor batu bara Indonesia, dengan proporsi impor batu bara dari Indonesia di Filipina mencapai 98%. Bangladesh bertengger di urutan kedua dengan proporsi impor batu bara Indonesia mencapai 93%.
Kembali ke Asia Tenggara, Thailand duduk di bangku ketiga dengan 76%, disusul Malaysia dengan 67%, China sebesar 66%, India dengan 58%, Vietnam mencapai 52%, Taiwan dan Korea Selatan sebesar 35%, serta Jepang di 21%.
Banyak negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan yang memang bergantung hampir sepenuhnya terhadap impor batu bara untuk menjaga pasokan dan memastikan sistem listrik tetap berjalan. Ketergantungan terhadap impor batu bara dari Indonesia mencerminkan kuatnya posisi Indonesia dalam rantai pasok energi global.
Tingginya porsi impor ini juga menunjukkan bahwa transisi energi di berbagai negara masih berlangsung secara bertahap. Meski komitmen pengurangan emisi terus digaungkan, realitas kebutuhan energi jangka pendek membuat batu bara tetap menjadi solusi utama. Dalam konteks ini, Indonesia tidak hanya berperan sebagai eksportir, tetapi juga sebagai penopang ketahanan energi bagi mitra dagangnya.
Baca Juga: Indonesia Ekspor 514 Juta Ton Batu Bara pada 2025
Sumber:
https://www.reuters.com/markets/commodities/asias-power-mix-be-shaken-up-by-indonesias-coal-export-stoppage-2026-02-04/