5 Penyumbang Inflasi Terbesar Mei 2026, Makanan dan Minuman di Puncak

Inflasi nasional pada Mei 2026 tercatat stabil di angka 3,08%, dengan kelompok makanan dan minuman menjadi penyumbang kontribusi terbesar.

5 Kelompok Pengeluaran Penyumbang Inflasi Terbesar

(Mei 2026)
Ukuran Fon:

Inflasi kerap kali dipandang sebagai momok menakutkan bagi sebagian masyarakat. Padahal, inflasi yang stabil dan terjaga justru merupakan indikator positif bahwa aktivitas perekonomian suatu negara sedang bergerak aktif.

Sebaliknya, inflasi yang terlalu rendah justru bisa menjadi sinyal bahaya akan lesunya perekonomian dan menurunnya daya beli masyarakat.

Pada Mei 2026, tingkat inflasi di Indonesia tercatat stabil di angka 3,08%. Angka ini menunjukkan bahwa rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat sedikit meningkat dibanding tahun lalu, sejalan dengan denyut nadi ekonomi yang terus berdetak.

Dalam mengukur tingkat inflasi, pemerintah tidak hanya memantau satu atau dua barang saja. Kenyataannya, terdapat ratusan komoditas yang secara ketat dipantau pergerakan harganya di lebih dari 150 kabupaten/kota di seluruh penjuru Indonesia.

Untuk memudahkan sistem pengukuran, komoditas tersebut diklasifikasikan ke dalam 11 kelompok pengeluaran.

Berdasarkan pemaparan dari Kementerian Keuangan RI, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi mencapai 28,0% terhadap total inflasi Mei 2026. Posisi selanjutnya diisi oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (16,4%) serta sektor transportasi (11,9%).

Kontribusi dari kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencapai 10%, tertinggi keempat dibanding kelompok pengeluaran lain. Daftar lima besar ditutup oleh kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang berkontribusi sebesar 6,3% terhadap inflasi Mei 2026.

Baca Juga: 10 Provinsi dengan Inflasi Terendah Mei 2026, Lampung Memimpin!

Tingginya kontribusi dari sektor pangan ini dinilai sangat wajar mengingat komoditas seperti beras, cabai, bawang, daging, telur, hingga sayur-sayuran termasuk ke dalam kategori inflasi barang bergejolak (volatile food). Karakteristik pergerakan harga barang-barang tersebut memang sangat fluktuatif karena dipengaruhi oleh perubahan musim atau faktor cuaca.

Di sisi lain, terdapat pula kategori inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price) seperti tarif listrik, BBM, dan tarif tol yang turut memberikan sumbangsih pergerakan harga, meski jauh lebih terkendali. Kolaborasi seluruh pergerakan harga inilah—termasuk inflasi inti (core inflation) yang lebih stabil seperti pakaian dan biaya pendidikan—yang pada akhirnya membentuk angka inflasi nasional secara utuh.

Capaian inflasi Mei 2026 di angka 3,08% ini membuktikan bahwa pemerintah melalui bauran kebijakannya sukses menjaga keseimbangan pasar. Upaya utama yang dilakukan negara pada dasarnya bukanlah untuk menekan inflasi serendah mungkin hingga menyentuh titik nol, melainkan mengelolanya agar senantiasa stabil dan terjaga.

Inflasi yang terkendali dengan baik ini menjadi kabar positif bagi para pelaku usaha dan masyarakat, karena roda perekonomian dapat terus berputar tanpa mengorbankan daya beli secara signifikan.

Baca Juga: 10 Wilayah dengan Inflasi Terbesar di Jawa Barat 2026

Sumber:

https://www.instagram.com/p/DZxKd66BHtg

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook