7 dari 10 Anak Muda RI Khawatir terhadap Perubahan Iklim

Cuaca ekstrem jadi isu yang paling menantang (66%), diikuti banjir dan air rob (59%).

Tingkat Kesadaran dan Urgensi Anak Muda terhadap Isu Lingkungan

(Mei 2026)

Poin Penting

  • 7 dari 10 responden berusia 17-29 tahun khawatir terhadap perubahan iklim.
  • Cuaca ekstrem menjadi dampak perubahan iklim yang paling menjadi tantangan (66%).
  • Deforestasi dinilai sebagai aktivitas yang paling memperburuk perubahan iklim (55%).
  • Perusahaan sawit dianggap sebagai pihak paling diuntungkan dari krisis iklim (44%).
  • Seluruh lapisan masyarakat dinilai menjadi pihak paling terdampak krisis iklim (38%).

Perubahan iklim menjadi salah satu isu lingkungan yang semakin diperhatikan masyarakat. Dampaknya terlihat dari intensitas banjir, fenomena kekeringan, meningkatnya cuaca ekstrem, hingga berbagai persoalan lingkungan lain yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu perubahan iklim, pandangan anak muda menjadi penting untuk disoroti karena dapat menggambarkan tingkat kepedulian sekaligus harapan mereka terhadap penanganan krisis iklim.

Pandangan tersebut terlihat dalam hasil quick poll Kawula17 yang dilakukan pada 9-10 Mei 2026 melalui survei daring terhadap 401 responden berusia 17-29 tahun. Hasilnya, mayoritas responden mengaku khawatir terhadap perubahan iklim. Sebanyak 8 dari 10 responden telah mengetahui isu tersebut, dengan 7 dari 10 responden mengaku khawatir.

Dampak perubahan iklim yang dinilai paling menjadi tantangan yakni cuaca ekstrem sebesar 66%, disusul banjir dan air rob (59%), serta kekeringan (31%). Sementara dari sisi pengetahuan, kekeringan menjadi dampak yang paling banyak diketahui dengan persentase 76%, diikuti banjir dan air rob (75%), dan cuaca ekstrem (72%).

Selain dampaknya, responden juga menilai sejumlah aktivitas turut memperburuk perubahan iklim. Deforestasi menjadi aktivitas yang paling berdampak negatif terhadap iklim dengan persentase 55%, begitu pula dengan sampah dan polusi plastik (52%) dan eksploitasi sumber daya alam (38%).

Baca Juga: Deforestasi Ilegal Dominasi Perkara SDA di Aceh 2020-2025

Ketika ditanya mengenai penyebab perubahan iklim menjadi tantangan, 44% responden menilai maraknya deforestasi sebagai faktor utama, 38% minimnya kesadaran masyarakat, dan 36% lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku perusakan lingkungan.

Survei ini juga menggambarkan persepsi responden mengenai pihak yang paling diuntungkan dan paling terdampak akibat krisis iklim.

Perusahaan sawit dianggap sebagai pihak yang paling diuntungkan sebesar 44%, pemerintah pusat dengan 38%, dan pemerintah daerah sebesar 34%. Di sisi lain, 38% responden menilai seluruh lapisan masyarakat menjadi pihak yang paling terdampak, diikuti masyarakat umum (35%), serta masyarakat desa dan petani (32%).

Merespons tantangan perubahan iklim, Kementerian Lingkungan Hidup atau Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memantapkan aksi peduli iklim melalui implementasi Nationally Determined Contribution (NDC), yakni upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sesuai target perjanjian Paris.

"Upaya mitigasi dan adaptasi harus berjalan beriringan. Dekarbonisasi penting untuk menekan risiko di masa depan, sementara adaptasi menjadi kunci dalam melindungi masyarakat dari dampak yang tidak dapat dihindari," ujar Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLH/BPLH, Franky Zamzani pada Selasa (12/5/2026), mengutip rilis pers KLH/BPLH.

Besarnya kekhawatiran responden menunjukkan bahwa anak muda sangat peduli terhadap isu perubahan iklim. Temuan ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat kebijakan mitigasi dan adaptasi.

Baca Juga: Indonesia Jadi Negara Paling Peduli Krisis Iklim

Sumber:

https://www.kawula17.id/

Rosita Fatimah Azahra
Ditulis oleh Rosita Fatimah Azahra

Jurnalis data GoodStats Data

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc