Dampak Era Digital, 1 dari 5 Siswa Indonesia Terganggu Perangkat Digital Saat Belajar

Menurut PISA 2025, sebanyak 22,6% siswa Indonesia terganggu dengan perangkat digital saat belajar sains, tertinggi keempat di ASEAN.

Proporsi Siswa ASEAN yang Terdistraksi Perangkat Digital Saat Belajar Sains

(PISA 2025)

Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap dunia pendidikan. Internet saat ini menjadi pilar utama dalam proses pembelajaran di era digitalisasi, memberikan kemudahan akses untuk membuka video edukatif maupun buku elektronik guna mendukung pembelajaran.

Pada saat yang sama, digitalisasi turut meningkatkan kecenderungan siswa menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar untuk pembelajaran maupun hiburan, sehingga penggunaan alat digital seperti ponsel, situs web, dan aplikasi dianggap lebih banyak memberikan distraksi terhadap sebagian besar siswa saat pembelajaran.

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah menganalisis 760 ribu siswa dari 91 negara dan wilayah ekonomi, termasuk seluruh anggota OECD dan 53 negara di luarnya untuk merilis PISA Result 2025.

Laporan tersebut mencatat bahwa 28% siswa negara anggota OECD merasa terdistraksi ketika menggunakan alat digital selama pelajaran sains.

Baca Juga: Pengaruh Durasi Penggunaan Perangkat Digital terhadap Skor PISA Sains 2025

Hasil PISA 2022 juga menunjukkan hal yang serupa, dengan 30% siswa melaporkan bahwa teman sekelas mereka merasa terganggu karena menggunakan perangkat digital di setiap atau sebagian besar mata pelajaran.

Dalam lingkup negara anggota ASEAN, Filipina menjadi negara yang siswanya merasa paling terganggu dengan perangkat digital saat belajar sains, persentasenya mencapai angka 39,4%. Sementara itu, Singapura menempati posisi kedua sebesar 28,9%.

Lebih lanjut, Tailan berada di posisi ketiga dengan persentase sebesar 24,1%, diikuti oleh Indonesia dengan 22,6%. Hal ini berarti, ada sekitar satu dari lima siswa Indonesia yang merasa terganggu dengan perangkat digital saat belajar sains.

Urutan kelima dan keenam dipegang oleh Malaysia sekaligus Vietnam yang masing-masing persentasenya terpaut tipis sebanyak 14,5% dan 14,4%.

Menutup daftar negara ASEAN yang siswanya merasa paling terganggu dengan perangkat digital saat belajar sains, Brunei Darussalam memiliki persentase terendah, yaitu 12%.

Tingkat gangguan yang lebih tinggi di pelajaran sains erat kaitannya dengan skor PISA atau kinerja sains yang lebih rendah. Pola tersebut mencerminkan bahwa berkurangnya waktu belajar efektif dan perhatian yang terbagi dapat mengurangi kemampuan siswa untuk mengikuti instruksi, mengingat informasi, maupun terlibat dalam penalaran ilmiah.

Baca Juga: PISA 2025: Sekolah di ASEAN Masih Kekurangan Teknologi Digital, Indonesia Masuk Daftar

Sumber:

https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2025-results-volume-i_73451bc5-en.html

Zalfa Ronaa
Ditulis oleh Zalfa Ronaa

Jurnalis data GoodStats Data

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc