Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Jakpat, publik Indonesia memiliki preferensinya sendiri dalam memilih barang yang dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti plastik.
Langkah ini kian masif diambil seiring dengan melonjaknya harga bahan baku plastik di pasar domestik, imbas dari ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
Alternatif kantong ramah lingkungan yang paling banyak dipakai oleh publik adalah tas berbahan spunbond yang dapat digunakan ulang, dengan angka 72%. Jenis tas belanja ini sangat populer karena selain fleksibel, publik sering mendapatkannya secara gratis sebagai goodie bag dari berbagai acara, seminar, maupun sebagai fasilitas belanja dari minimarket.
Baca Juga: Harga Plastik Naik, UMKM Menjerit: Begini Respon Pemerintah
Di posisi kedua dengan angka yang terpaut cukup jauh, sebanyak 48% responden memilih memanfaatkan kardus atau karton. Alternatif ini biasanya menjadi solusi andalan bagi konsumen yang berbelanja dalam jumlah besar di swalayan atau pasar grosir.
Masih memanfaatkan material berbasis kertas, kantong kertas (paper bag) menyusul di urutan ketiga dengan proporsi sebesar 39%. Wadah ini umumnya diandalkan publik saat membeli produk-produk dengan bobot ringan seperti pakaian, kosmetik, atau makanan siap saji yang cenderung kering.
Sementara itu, kantong jaring (mesh bag) juga mulai naik daun dan digemari oleh publik Indonesia dengan perolehan 38%. Tren penggunaan kantong jaring ini marak ditemukan saat publik berbelanja bahan makanan segar, seperti buah-buahan dan sayuran.
Desainnya yang berlubang memberikan sirkulasi udara yang baik agar bahan pangan tidak cepat membusuk, sekaligus menawarkan tampilan yang modis dan estetik saat dibawa bepergian.
Sebagai penutup daftar, wadah plastik keras atau mika dipilih oleh 37% responden sebagai opsi tas belanja alternatif. Meskipun pada dasarnya material ini tetap berbasis plastik, nilai lebihnya terletak pada daya tahan fisik yang kuat untuk digunakan berulang kali (reusable).
Alih-alih menjadi limbah sekali pakai, publik kerap memanfaatkannya kembali sebagai tempat bekal atau wadah penyimpanan makanan di dalam kulkas demi menekan produksi sampah rumah tangga.
Pengumpulan data dalam survei ini dilakukan dengan metode kuantitatif melalui kuesioner yang disebarkan via Jakpat mobile app pada 16-17 April 2026, dengan total 1.373 responden yang didominasi oleh kelompok Gen Z (45%), diikuti oleh Milenial (43%) dan Gen X (12%). Dengan tingkat kepercayaan yang terjaga, survei ini memiliki margin of error di bawah 5%.
Baca Juga: Negara Asia Jadi Penyumbang Sampah Plastik ke Laut Terbesar
Sumber:
https://insight.jakpat.net/sustainable-living-the-plastic-pivot-responding-to-market-changes/