Perubahan struktur penduduk menjadi salah satu isu yang semakin mendapat perhatian dalam pembangunan nasional. Salah satu indikator yang menggambarkan kondisi tersebut ialah angka kelahiran total atau total fertility rate (TFR), yaitu rata-rata jumlah anak yang diperkirakan dilahirkan seorang perempuan selama masa reproduksinya. Angka ini penting karena berkaitan dengan proyeksi jumlah penduduk, kebutuhan tenaga kerja, hingga keberlanjutan pembangunan di masa depan.
Baca Juga: Jumlah Kepemilikan Akta Kelahiran Terus Merangkak Naik 1 Dekade Terakhir
Dalam beberapa tahun terakhir, tren kelahiran di Indonesia terus mengalami penurunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat bahwa angka kelahiran total (TFR) Indonesia mencapai 2,13. Angka tersebut semakin mendekati replacement level, yaitu tingkat kelahiran yang diperlukan agar jumlah penduduk tetap stabil dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jika melihat perkembangannya, angka kelahiran Indonesia terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada SP2010, TFR Indonesia tercatat sebesar 2,41. Angka tersebut kemudian turun menjadi 2,28 pada SUPAS 2015, kembali menurun menjadi 2,18 pada Long Form SP2020, hingga mencapai 2,13 pada SUPAS 2025.
Di tingkat provinsi, DKI Jakarta menjadi wilayah dengan angka kelahiran terendah di Indonesia, yakni sebesar 1,79. Posisi ini diikuti oleh DI Yogyakarta dengan angka 1,84 dan Jawa Timur sebesar 1,95. Rendahnya angka kelahiran di sejumlah provinsi tersebut umumnya berkaitan dengan tingginya urbanisasi, biaya hidup yang meningkat, serta kecenderungan masyarakat menunda pernikahan dan memiliki anak.
Banten menempati posisi berikutnya dengan angka kelahiran total 1,96, disusul Bali sebesar 2,02. Sementara itu, Jawa Tengah dan Jawa Barat sama-sama mencatat angka 2,05, diikuti Sulawesi Utara sebesar 2,07 dan Kalimantan Timur sebesar 2,09. Kepulauan Riau melengkapi daftar sepuluh provinsi dengan angka kelahiran terendah, dengan TFR sebesar 2,17.
Mayoritas provinsi dengan angka kelahiran rendah merupakan wilayah urban dan pusat pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola kehidupan masyarakat yang semakin dipengaruhi faktor pendidikan, pekerjaan, dan pertimbangan ekonomi keluarga.
Baca Juga: Terus Turun, Berikut Negara dengan Angka Kelahiran Terendah 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/2645/supas-2025--angka-kelahiran-total--tfr--sebesar-2-13---angka-kematian-bayi--imr--sebesar-14-12--dan-persentase-lansia-mencapai-11-97-persen-.html