Kerja Remote: Lebih Nyaman atau Malah Kurang Efektif?

5 dari 8 tanggapan terkait kerja remote menunjukkan kecemasan para pekerja. Salah satunya, 18,2% meragukan produktivitas pekerja saat kerja remote.

Pandemi Covid-19 membawa perubahan pada sistem kerja Indonesia. Kini, pekerja di berbagai lini pekerjaan dapat bekerja di rumah atau dari mana saja tanpa harus ke kantor. Sistem kerja remote dan hybrid ini memungkinkan pelaksanaan kerja secara online.

Sistem hybrid artinya pekerja tidak harus masuk kantor tiap hari. Mereka dapat kerja di mana saja untuk sebagian waktu dan masuk kantor di saat tertentu. Di sisi lain, remote berarti pekerjaan dilakukan secara online atau di luar kantor sepenuhnya.

Dari survei yang dilakukan Standard Insights, mayoritas responden memilih bekerja dengan sistem hybrid (54,6%), sedangkan full remote dapat suara paling sedikit (3,1%). Kerja kantoran sepenuhnya pun hanya dipilih 13,6% orang.

Fenomena kerja hybrid yang lebih disukai dibanding remote dapat dijelaskan dengan menilik tanggapan responden terkait kerja remote. Menariknya, tanggapan mereka didominasi suara-suara kecemasan dibanding tanggapan positif.

Pertama, 18,2% meragukan produktivitas pekerja saat menjalani sistem remote. Karenanya, sistem ini dinilai kurang efektif dan efisien.

Berikutnya, 17,4% menganggap kerja remote menyebabkan aspek pekerjaan dan kehidupan (work-life) jadi tidak seimbang. Fleksibilitas waktu yang ditawarkan menimbulkan kelebihan kerja, sehingga sistem ini diklaim dapat mengaburkan batas kedua aspek tersebut.

Tanggapan selanjutnya, yakni isolasi. Sebesar 14,9% cemas akan mengalami kesepian dan kurang interaksi sosial jika mereka menjalani kerja remote terus-terusan.

Selain itu, 9,6% responden mencemaskan jenjang pertumbuhan karier di masa depan. Tidak bekerja secara langsung di kantor membuat pekerja khawatir performa mereka tidak diperhatikan oleh atasan, sehingga pertumbuhan karier pun terancam.

Dibalik sederet kecemasan itu, nyatanya masih ada juga yang memberi tanggapan positif terkait kerja remote.

Sebanyak 11,1% setuju bahwa sistem remote menciptakan situasi kerja yang lebih nyaman dan kondusif karena pekerja dapat memilih tempat kerja dengan bebas. Akibatnya, kerja pun jadi lebih fokus dan nyaman.

Selanjutnya, 9,2% responden mengakui fleksibilitas kerja remote yang menawarkan kebebasan dan penyesuaian lingkungan kerja. Sisanya (7,6%) menyukai sistem remote karena tak perlu pergi-pulang kerja, sehingga waktu untuk kegiatan pribadi pun bertambah.

Dari seluruh tanggapan tersebut, hanya segelintir (0,3%) yang punya tanggapan lainnya. Alhasil, survei ini membuktikan bahwa mayoritas responden menganggap kerja remote lebih mencemaskan ketimbang menyenangkan.

Baca juga: Tingkat Pendidikan Pekerja Remote Dunia

Terima kasih telah membaca sampai di sini

Dengan melakukan pendaftaran akun, saya menyetujui Aturan dan Kebijakan di GoodStats Data

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook