Konsumsi Rumah Tangga Sumbang 53% PDB Indonesia pada Triwulan II 2026

Konsumsi rumah tangga menyumbang 53,32% PDB Indonesia pada Triwulan II 2026, tertinggi dibanding komponen pengeluaran lainnya.

Struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia Menurut Pengeluaran

(Triwulan II 2026)
Ukuran Fon:

Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama perekonomian Indonesia. Aktivitas belanja masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan, transportasi, kesehatan, hingga pendidikan, terus memberikan kontribusi terbesar terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB). Besarnya peran konsumsi rumah tangga menunjukkan bahwa daya beli masyarakat memiliki pengaruh penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjadi salah satu indikator yang mencerminkan kondisi perekonomian domestik.

Baca Juga: Konsumsi Rumah Tangga Jadi Kontributor Terbesar PDB Indonesia 2025

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Triwulan II 2026, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga menyumbang 53,32% terhadap PDB Indonesia. Artinya, lebih dari separuh nilai tambah yang dihasilkan perekonomian nasional berasal dari aktivitas konsumsi masyarakat. Kontribusi tersebut menjadikan konsumsi rumah tangga sebagai komponen pengeluaran terbesar dalam struktur PDB Indonesia.

Di bawah konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menempati posisi kedua dengan pangsa sebesar 29,36%. Komponen ini mencerminkan aktivitas investasi, seperti pembangunan gedung, infrastruktur, pembelian mesin, serta aset tetap lainnya yang mendukung kapasitas produksi di masa mendatang.

Sementara itu, ekspor barang dan jasa memiliki pangsa sebesar 23,13%, menunjukkan bahwa perdagangan internasional juga memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian nasional.

Komponen lainnya memiliki porsi yang lebih kecil. Pengeluaran konsumsi pemerintah menyumbang 7,57% terhadap PDB, sedangkan perubahan inventori berkontribusi sebesar 2,50%. Adapun konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT), seperti yayasan, organisasi sosial, dan lembaga keagamaan, memiliki pangsa sebesar 1,35%.

Dalam pendekatan pengeluaran, impor barang dan jasa tercatat sebesar 24,06% terhadap PDB. Namun, berbeda dengan komponen lainnya, impor berfungsi sebagai faktor pengurang dalam perhitungan PDB karena mencerminkan barang dan jasa yang diproduksi di luar negeri. Oleh sebab itu, meskipun nilainya cukup besar, impor tidak menambah nilai output yang dihasilkan di dalam negeri.

Struktur tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih sangat ditopang oleh permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga. Kondisi ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi Indonesia karena pertumbuhan tidak hanya bergantung pada permintaan dari luar negeri. Di sisi lain, menjaga daya beli masyarakat dan meningkatkan investasi tetap menjadi faktor penting agar pertumbuhan ekonomi nasional dapat berlangsung secara berkelanjutan dan lebih berkualitas.

Baca Juga: 10 Lapangan Usaha dengan Nilai PDB ADHB Terbesar pada Triwulan II 2026

Sumber:

https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/08/05/2605/ekonomi-indonesia-triwulan-ii-2026-tumbuh-5-29-persen--y-on-y-.html

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook