Kualitas udara di Jakarta pada April 2026 menunjukkan kondisi yang fluktuatif dengan indeks kualitas udara atau air quality index (AQI) berada pada posisi sedang. Berdasarkan data dari AQI, kualitas udara sempat menyentuh angka 90 hingga 96 yang memasuki kategori sedang.
AQI sendiri merupakan indikator yang menunjukkan tingkatan pencemaran udara, yang dibagi menjadi 6 kategori, yakni baik (0-50), sedang (51-100), tidak sehat untuk kelompok sensitif (101-150), tidak sehat (151-200), sangat tidak sehat (201-300), dan berbahaya (301+).
Adapun AQI dihitung dari konsentrasi berbagai polutan utama di udara seperti PM2.5, PM10, ozon, dan gas berbahaya lainnya. Nilai dari masing-masing polutan dikonversi ke dalam skala indeks dan ditentukan berdasarkan yang paling dominan, sehingga menunjukkan tingkat risiko kualitas udara terhadap kesehatan masyarakat.
Selama satu bulan terakhir, kondisi udara di Jakarta sepenuhnya berada dalam kondisi sedang dengan rentang skor 51 hingga 96. Sebuah kondisi yang sepenuhnya stabil dalam kategori sedang bahkan mendekati baik.
Indeks tertinggi berada pada 29 April 2026 dengan angka 96, disusul pada 21 April yang mencapai angka 94 dan 11 April yang menunjukkan indeks 90.
Adapun kondisi cuaca di Jakarta memasuki bulan Mei juga berada dalam kategori sedang yang berada di angka 70 hingga 94.
Baca Juga: Pembakaran Sampah Jadi Sumber Utama Mikroplastik Polimer di Udara 2025
Sebagai catatan, Jakarta sempat diisukan mengalami gelombang panas pada April 2026 seiring meningkatnya suhu udara di sejumlah wilayah. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengungkapkan suhu panas yang terjadi bukan sebuah fenomena gelombang panas (heatwave).
Pasalnya, Indonesia sebagai negara beriklim tropis yang berada di sekitar garis khatulistiwa, sejatinya tidak mengalami heatwave seperti di negara lintang tinggi. Adapun BMKG menjelaskan kondisi panas tersebut merupakan hal yang normal terutama dalam memasuki masa peralihan musim.
Meski tidak selalu memiliki hubungan sebab-akibat secara langsung, peningkatan suhu dapat memperparah akumulasi polutan di udara akibat minimnya pergerakan angin dan rendahnya curah hujan.
Dalam hal tersebut, kondisi udara di Jakarta menunjukkan hasil yang sedang dan belum termasuk dalam kategori buruk. Meski begitu, kondisi tersebut tetap perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok sensitif, jika terjadi peningkatan polusi dalam periode berikutnya.
Adanya upaya pemantauan kualitas udara secara berkala serta pengendalian sumber emisi menjadi langkah penting guna mencegah penurunan kualitas udara ke kategori yang lebih buruk di masa mendatang.
Baca Juga: Kualitas Udara di Tangerang Selatan Mei 2025
Sumber:
https://www.aqi.in/id/dashboard/indonesia/daerah-khusus-ibukota-jakarta/jakarta