Strategi pemasaran menjadi kunci utama bagi pelaku usaha dalam mengembangkan bisnis, terutama di tengah persaingan yang semakin ketat di era digital. Menariknya, pendekatan yang digunakan cenderung mengarah pada kanal yang lebih organik dan dekat dengan konsumen.
Hal ini terlihat dari temuan survei yang melibatkan 442 pemilik bisnis, yang menunjukkan bahwa media sosial masih menjadi strategi pemasaran paling dominan. Sebanyak 73% pelaku usaha mengaku aktif memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk mereka. Jika dilihat berdasarkan gender, 77% pemilik usaha perempuan menggunakan strategi ini, lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang berada di angka 68%.
Baca Juga: 68% Gen Z Indonesia Tertarik Memulai Bisnis, Apa Kendala Terbesarnya?
Selain media sosial, promosi dari mulut ke mulut atau word-of-mouth juga masih sangat relevan. Sekitar 60% pelaku usaha mengandalkan rekomendasi pelanggan sebagai strategi pemasaran. Angkanya bahkan lebih tinggi pada pemilik usaha perempuan 63% dibandingkan laki-laki 57%. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan pelanggan tetap menjadi aset penting dalam membangun bisnis.
Strategi berbasis komunitas juga mulai dimanfaatkan, meski belum dominan. Sebanyak 27% pelaku usaha menggunakan grup komunitas untuk memperluas jangkauan pasar, dengan laki-laki 29% sedikit lebih aktif dibandingkan perempuan 24%.
Menariknya, terdapat perbedaan pendekatan antara pelaku usaha laki-laki dan perempuan dalam memanfaatkan platform digital. Sebanyak 21% pelaku usaha mendaftarkan bisnis mereka di Google Maps, dengan laki-laki 30% jauh lebih aktif dibandingkan perempuan 12%. Ini menunjukkan bahwa pelaku usaha laki-laki cenderung lebih fokus pada visibilitas berbasis pencarian.
Sementara itu, strategi berbayar seperti iklan media sosial digunakan oleh 17% pelaku usaha, dengan proporsi yang relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, 17% pelaku usaha juga memanfaatkan website resmi sebagai kanal pemasaran, meski penggunaannya masih terbatas.
Beberapa strategi lain seperti membagikan sampel produk (14%), iklan di e-commerce (14%), membuka lapak di bazaar (13%), hingga sistem komisi atau referral (13%) juga digunakan, meski dalam skala yang lebih kecil.
Adapun survei ini dilakukan oleh Jakpat pada 5–6 Februari 2026 dengan melibatkan 1.387 responden dan margin of error di bawah 5%. Komposisi responden disesuaikan dengan populasi pengguna internet di Indonesia.
Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa media sosial dan word-of-mouth masih mendominasi strategi pemasaran bisnis di Indonesia. Pendekatan yang mengandalkan kedekatan dengan konsumen dan kepercayaan terbukti lebih banyak dipilih dibandingkan strategi yang sepenuhnya berbayar.
Baca Juga: 59% Publik Indonesia Berencana Memulai Bisnis
Sumber:
https://insight.jakpat.net/trends-in-modern-entrepreneurship/