Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Neraca Energi Indonesia 2022–2024 pada 31 Desember 2025. Salah satu data penting yang disoroti adalah produksi listrik nasional berdasarkan jenis pembangkit. Data ini memberi gambaran arah bauran energi Indonesia sekaligus ketergantungan terhadap jenis pembangkit tertentu.
Secara total, produksi listrik Indonesia menunjukkan tren meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022, total produksi tercatat sebesar 308.095 Gigawatt-hour (GWh), naik menjadi 323.321 GWh pada 2023, dan kembali meningkat ke 343.909 GWh pada 2024. Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan listrik nasional dari sektor industri, rumah tangga, dan transportasi.
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) masih menjadi tulang punggung produksi listrik nasional. Sepanjang 2022–2024, produksi PLTU terus meningkat dari 206.204 GWh, menjadi 219.748 GWh, lalu 232.250 GWh. Data ini menunjukkan bahwa batu bara masih memegang peran dominan dalam sistem ketenagalistrikan Indonesia.
Baca Juga: Pembangkit EBT Akan Dominasi Indonesia pada 2034
Di posisi berikutnya, Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) juga mencatat tren pertumbuhan konsisten, dari 38.475 GWh pada 2022 menjadi 47.699 GWh pada 2024. Sementara itu, PLTA mengalami fluktuasi produksi yang dipengaruhi kondisi hidrologi, dengan produksi 22.355 GWh pada 2022, turun di 2023, lalu naik kembali pada 2024.
Untuk energi panas bumi, produksi PLTP relatif stabil di kisaran 16–17 ribu GWh per tahun. Stabilitas ini menegaskan peran panas bumi sebagai sumber energi terbarukan baseload yang andal, meski ekspansinya masih berjalan terbatas.
Kontribusi pembangkit berbasis minyak dan diesel seperti Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) relatif lebih kecil, namun tetap mengalami kenaikan moderat. Sementara itu, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menunjukkan pertumbuhan signifikan secara persentase, dari 218 GWh pada 2022 menjadi 425 GWh pada 2024, meski kontribusinya terhadap total produksi masih sangat kecil.
Secara keseluruhan, data BPS ini menegaskan bahwa transisi energi di Indonesia masih berlangsung bertahap. Pembangkit fosil masih dominan, sementara energi terbarukan terus tumbuh, namun membutuhkan percepatan agar perannya semakin signifikan dalam bauran listrik nasional.
Baca Juga: RI Akan Tambah 69,5 GW Pembangkit Listrik Hingga 2034, Mayoritas dari EBT
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/publication/2025/12/31/08fbe1e409d6fe8a83688144/neraca-energi-indonesia-2020-2024.html