Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan total produksi padi sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 52,49 juta ton gabah kering panen (GKP). Angka tersebut meningkat 0,10% atau sekitar 0,05 juta ton GKP dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 52,43 juta ton GKP.
Sepanjang 2026, produksi padi menunjukkan pola musiman yang mirip dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada Januari, produksi tercatat 3,69 juta ton GKP, kemudian meningkat menjadi 5,99 juta ton GKP pada Februari seiring dimulainya musim panen di berbagai daerah.
Baca Juga: Produksi Beras Indonesia Diproyeksi Tembus 19 Juta Ton Semester I 2026
Puncak produksi terjadi pada Maret dengan 10,43 juta ton GKP, sebelum sedikit menurun menjadi 9,13 juta ton GKP pada April. Setelah memasuki Mei, produksi kembali melandai menjadi 5,87 juta ton GKP seiring berakhirnya panen raya di sejumlah sentra produksi.
Produksi diperkirakan mencapai 5,01 juta ton GKP pada Juni, 5,75 juta ton GKP pada Juli, dan kembali meningkat menjadi 6,73 juta ton GKP pada Agustus.
Untuk bulan Mei, produksi masih merupakan angka sementara, sedangkan untuk Juni, Juli, dan Agustus, angkanya masih merupakan potensi.
Adapun gabah kering panen adalah gabah segar yang baru dipanen dari sawah dengan kadar air yang tinggi (sekitar 20%-25%) dengan kotoran maksimal 10%. GKP ini berbeda dengan gabah kering giling, yang sudah dikeringkan sehingga kadar airnya turun menjadi 14% dan kadar kotorannya maksimal 3%.
Untuk GKG sendiri, total produksi diperkirakan mencapai 43,89 juta ton sepanjang Januari-Agustus 2026, dengan Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat sebagai sentra produksi utama.
Baca Juga: 5 Provinsi dengan Produksi Padi Tertinggi 2026
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/07/01/2586/luas-panen-dan-produksi-padi.html