Rasa Jadi Faktor Utama Publik RI Pilih Snack

Sebanyak 56% publik RI mempertimbangkan rasa ketika memilih jajanan, lebih banyak daripada responden yang mementingkan faktor kesehatan sebesar 42,3%.

Pertimbangan Publik RI Ketika Memilih Snack

(Tahun 2025)
Ukuran Fon:

Menurut laporan Brand Image Report yang dirilis oleh Impactum Insights, rasa menjadi pertimbangan utama publik RI ketika memilih camilan ringan, dengan persentase responden sebanyak 56%. Angka ini menjadikannya sebagai faktor paling berpengaruh bagi konsumen Indonesia, menegaskan bahwa cita rasa menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan saat memilih makanan ringan.

Sementara itu, faktor kesehatan dipilih oleh sebesar 42,3% responden. Meski berada di bawah alasan rasa, persentase tersebut menunjukkan tingkat kepentingan dengan mempertimbangkan aspek nutrisi yang cukup tinggi ketika memakan camilan.

Adapun sebanyak 1,6% responden menjawab tidak tahu, menunjukkan bahwa masih ada sebagaian kecil publik RI yang tidak memiliki prioritas yang jelas saat memilih snack.

Baca Juga: 3 Brand Lokal Tembus Top 10 Brand Makanan Asia 2025

Hal ini sejalan pula dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Melania Febriana Kumarga, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2024 mengenai persepsi konsumen terhadap label nutrisi pada kemasan dan rasa makanan, meski dalam penelitian ini fokus utamanya berupa mi instan.

Melania mengungkapkan bahwa hanya sekitar 9% mi instan di Indonesia yang memakai logo Healthier Choice (HC). Logo HC sendiri merupakan tanda pada kemasan makanan yang menunjukkan bahwa produk tersebut telah memenuhi kriteria gizi tertentu, seperti lebih rendah gula, garam, atau lemak sehingga dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat dibanding produk sejenis.

Namun, penelitian tersebut juga menemukan adanya produk yang sudah menampilkan logo HC meskipun belum sepenuhnya memenuhi persyaratan. Jika dilihat dari kandungan gizinya, perbedaan antara produk berlogo dan tanpa logo HC hampir tidak signifikan, kecuali pada kadar garam atau natrium.

Kemudian dari sisi konsumen, logo ini cukup berpengaruh pada perempuan dan responden berusia di atas 43 tahun. Sementara itu, konsumen yang lebih muda cenderung tidak terlalu terpengaruh dan lebih memilih mi instan dengan rasa yang menurut mereka lebih enak.

Temuan ini menegaskan bahwa keputusan membeli tidak hanya didasarkan pada label kesehatan. Faktor selera dan cita rasa tetap menjadi pertimbangan utama. Meskipun label kesehatan dapat menjadi sinyal positif, hal tersebut belum cukup kuat untuk mengubah pilihan konsumen secara luas.

Produk sehat tetap harus memenuhi ekspektasi cita rasa agar bisa diterima konsumen, terutama jika target pasarnya adalah generasi muda.

Adapun pengumpulan data dalam survei Impactium Insights ini dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan Computer-Assisted Web Interviews (CAWI). Dengan jumlah responden sebanyak 1.094 warga Indonesia berusia 18 tahun ke atas, survei ini dilakukan pada 10 September–10 Oktober 2025.

Baca Juga: Ini 5 Brand Makanan Lokal Favorit Publik RI 2025

Sumber:

https://drive.google.com/file/d/1amw85YHaUVgeav1c92snc1I1QihnpzNH/view?usp=sharing

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook