Pembahasan mengenai perseteruan K-Netz dan SEAblings kini turut meluas ke media sosial TikTok. Isu yang berakar dari insiden konser Day6 di Malaysia tetap menjadi latar utama, namun di TikTok diskusi lebih banyak hadir melalui video reaksi, konten bernuansa hiburan, serta interpretasi kreatif warganet terhadap konflik tersebut. Percakapan tidak semata berpusat pada perdebatan, tetapi juga pada pemaknaan fenomena ini sebagai representasi identitas dan solidaritas kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Debat K-Netz Vs SEAblings di Instagram Tuai Sentimen Netral Capai 64%
Berdasarkan laporan sentimen yang dipublikasikan oleh Drone Emprit, respons publik di TikTok didominasi oleh sentimen netral sebesar 64,3%, disusul sentimen positif 31%, dan sentimen negatif 4,8%. Pengumpulan data dilakukan pada 1-18 Februari 2026 dengan 18.934 sample mentions ditemukan. Komposisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna TikTok menanggapi fenomena tersebut secara observasional, dengan kecenderungan melihatnya sebagai konten yang informatif sekaligus menghibur, bukan semata konflik digital.
Sentimen positif di TikTok banyak muncul dari persepsi bahwa perseteruan K-Netz dan SEAblings menjadi fenomena yang menghadirkan hiburan sekaligus memperkuat identitas kolektif Asia Tenggara. SEAblings sendiri dipandang sebagai simbol solidaritas warganet kawasan Asia Tenggara yang mampu terbentuk secara spontan melalui kesamaan emosi dan latar budaya. Beberapa konten juga menyoroti bagaimana solidaritas lintas negara dapat berkembang luas ketika dipicu oleh pengalaman bersama, memperlihatkan bahwa ruang digital berfungsi sebagai medium pembentukan identitas regional yang dinamis.
Meski proporsinya relatif kecil, sentimen negatif tetap hadir dalam percakapan. Sebagian pengguna mengekspresikan kemarahan terhadap warganet Indonesia yang dinilai ikut melontarkan candaan bernada rasis, sementara kekhawatiran lain muncul terhadap potensi eskalasi konflik menjadi perundungan terhadap individu yang tidak terlibat langsung. Kritik tersebut menunjukkan adanya kesadaran publik terhadap risiko sosial yang dapat muncul dari dinamika konflik digital.
Dengan sentimen netral sebagai respons dominan, percakapan di TikTok memperlihatkan kecenderungan publik untuk memaknai perseteruan ini sebagai fenomena sosial, bukan semata konflik. Diskursus yang muncul justru menegaskan terbentuknya solidaritas Asia Tenggara melalui interaksi digital yang luas.
Baca Juga: Perang K-Netz Vs SEAblings di X Tuai Respons Positif Hingga 51%
Sumber:
https://x.com/DroneEmpritOffc/status/2024822937963077882?s=20