Isu lingkungan hidup semakin menjadi perhatian dalam beberapa waktu terakhir, seiring meningkatnya berbagai permasalahan yang berdampak pada kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat. Perubahan fungsi lahan, eksploitasi sumber daya alam, serta meningkatnya risiko bencana menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi di berbagai wilayah.
Baca Juga: Deforestasi Indonesia Melonjak Tajam pada 2025, Tertinggi dalam 5 Tahun Terakhir
Data terbaru menunjukkan bahwa sepanjang 2025, Indonesia mengalami peningkatan deforestasi yang cukup signifikan. Luas deforestasi tercatat mencapai sekitar 433.751 hektare, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 261.575 hektare. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, laju deforestasi masih menjadi tantangan dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia.
Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah deforestasi di Papua, khususnya akibat pembukaan lahan sawit. Di tengah tren peningkatan deforestasi nasional, Papua turut mengalami peningkatan deforestasi, dengan luas mencapai sekitar 60.337 hektare sepanjang 2025. Aktivitas ini berkontribusi terhadap berkurangnya tutupan hutan yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Papua sebagai salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi menghadapi tantangan besar ketika ekspansi lahan tidak diiringi dengan pengelolaan yang tepat. Kondisi ini kemudian mendorong meningkatnya perhatian publik terhadap isu tersebut.
Berdasarkan survei Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas pada Kuartal I 2026, deforestasi lahan sawit di Papua menempati posisi teratas sebagai isu lingkungan yang paling diprioritaskan publik dengan persentase 33%. Survei ini melibatkan 387 responden melalui metode Computer-Assisted Self Interviewing atau survei daring yang dilakukan pada 13-16 Maret 2026. Responden merupakan warga berusia 17-44 tahun yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dengan komposisi 56% dari Pulau Jawa, 18% dari Sumatra, dan 26% dari wilayah lainnya.
Selain deforestasi lahan sawit, proyek tambang yang merusak lingkungan berada di posisi kedua dengan 32%, diikuti pemulihan wilayah pascabencana sebesar 31%. Pengelolaan sampah yang tidak efisien serta perampasan hutan adat masing-masing dipilih oleh 27% responden. Sementara itu, deforestasi dan alih fungsi hutan serta banjir dan air rob berada di angka 25%.
Lebih lanjut, peningkatan intensitas cuaca ekstrem dan pencemaran limbah industri berada pada angka 24%. Isu kerja sama sektor energi Indonesia dengan Israel memperoleh 19%, dan komersialisasi kawasan konservasi sebesar 15%. Hanya 1% responden yang menyatakan tidak mengetahui isu lingkungan yang menjadi prioritas.
Baca Juga: 10 Kabupaten dengan Deforestasi Tertinggi 2025, Kalimantan dan Papua Dominasi
Sumber:
https://kawula17.id/publikasi