Poin Penting
- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi.
- Cadangan devisa Indonesia pada awal masa jabatan Perry Warjiyo (2018) sebesar US$120,6 miliar.
- Cadangan devisa mencapai puncaknya pada 2024 dengan US$155,7 miliar.
- Pada Juni 2026, menjelang akhir masa jabatan Perry Warjiyo, cadangan devisa Indonesia sebesar US$145,6 miliar.
Kabar mengejutkan datang dari bank sentral Indonesia. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya pada Sabtu (25/7/2026). Berdasarkan siaran pers resmi di laman BI, keputusan pengunduran diri tersebut dilakukan secara sukarela lantaran alasan pribadi.
“Tentu disertai ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dedikasi beliau selama kurang lebih tujuh tahun memimpin Bank Indonesia,” ujar Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi dalam konferensi pers mengumumkan pengunduran diri Perry di Gedung Thamrin BI, Jakarta, Senin (27/7/2026).
Menyusul dinamika ini, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti secara otomatis naik menggantikan kursi tersebut dan bertugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara (Pjs.) BI.
Baca Juga: BI-Rate Naik Lagi Jadi 5,75% per 18 Juni 2026
Mengingat rekam jejaknya, Perry Warjiyo telah menjabat sebagai Gubernur BI sejak Mei 2018, tepatnya di era pemerintahan Presiden Joko Widodo. Menjabat hampir dua periode penuh, salah satu tolok ukur kesuksesan kinerja Perry Warjiyo dapat ditelisik melalui rekam jejak besaran cadangan devisa Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bersumber dari BI, grafik cadangan devisa negara selama masa kepemimpinan Perry Warjiyo secara umum menunjukkan tren peningkatan yang positif, meski sempat mengalami fluktuasi pada beberapa periode.
Pada awal masa jabatannya, cadangan devisa negara berada di level US$120,6 miliar. Angka ini tumbuh 7,1% menjadi US$129,2 miliar pada tahun 2019, sekaligus sebagai persentase pertumbuhan tahunan tertinggi selama era kepemimpinannya.
Memasuki era pandemi pada tahun 2020, ketahanan eksternal RI tetap terjaga dengan devisa yang tumbuh 5,2% menuju angka US$135,9 miliar. Tren pertumbuhan berlanjut pada tahun 2021, dengan cadangan devisa kembali naik 6,6% hingga menyentuh US$144,9 miliar.
Kendati demikian, tekanan gejolak ekonomi global mulai terasa pada tahun 2022. Hal ini memicu penyusutan devisa pertama sebesar 5,3%, membawa posisinya turun ke level US$137,2 miliar. Penurunan ini menjadi pelemahan cadangan devisa tertinggi yang pernah dialami Gubernur BI Perry Warjiyo sejak menjabat pada tahun 2018.
Pada tahun 2023, devisa negara kembali menguat 6,7% ke level US$146,4 miliar. Puncak kinerja Perry Warjiyo akhirnya tercipta pada tahun 2024. Devisa tumbuh sebesar 6,3%, menjadikannya sebagai periode dengan cadangan devisa negara terbesar sepanjang era Perry, yaitu berada di angka US$155,7 miliar.
Memasuki tahun 2025, angka tersebut mengalami penyusutan tipis sebesar 0,7% dan menyentuh US$154,6 miliar. Menjelang akhir masa pengabdiannya, siaran pers BI per Juni 2026 mengungkapkan bahwa posisi akhir cadangan devisa Indonesia sebesar US$145,6 miliar.
Baca Juga: Proyeksi Pertumbuhan GDP Negara ASEAN 2026 dan 2027
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTA5MSMy/posisi-cadangan-devisa.html