Dinamika sosial dan ekonomi yang terus berubah menjadikan generasi muda sebagai salah satu kelompok yang paling merasakan dampak dari berbagai kebijakan publik. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, transformasi digital, serta persaingan pasar kerja yang semakin ketat, anak muda di Indonesia menghadapi tantangan yang tidak sederhana dalam merancang masa depan mereka.
Baca Juga: Begini Komitmen Anak Muda dalam Menyuarakan Isu Politik
Berdasarkan Survei Nasional Muda Bicara ID Q1 2026, persoalan lapangan kerja menjadi isu dan kebijakan paling krusial dikawal menurut anak muda Indonesia. Survei ini dilakukan pada 1-30 Maret 2026 menggunakan metode computer-assisted self interviewing (CASI), melibatkan 800 responden berusia 17-40 tahun di seluruh Indonesia. Sampel ini disusun melalui stratified random sampling berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, dan wilayah. Survei ini memiliki margin of error ±5% dengan tingkat kepercayaan 95%.
Dalam hasil survei tersebut, isu lapangan kerja menempati posisi teratas dengan persentase sebesar 39,5%. Angka ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari responden menganggap ketersediaan pekerjaan sebagai persoalan paling krusial. Tingginya angka ini tidak terlepas dari realitas di lapangan, seperti terbatasnya peluang kerja yang sesuai dengan kualifikasi, meningkatnya jumlah angkatan kerja baru, serta ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri.
Di posisi berikutnya, pemberantasan korupsi tercatat sebesar 16,6%, disusul pendidikan berkualitas (9,4%) dan kesehatan mental (9,2%). Angka-angka ini menunjukkan bahwa perhatian anak muda tidak berhenti pada persoalan ekonomi semata, tetapi juga pada pemerintahan yang bersih serta kualitas sumber daya manusia
Sementara itu, isu kedaulatan energi dan pangan berada di angka 7,9%, diikuti perumahan terjangkau sebesar 7,5%, serta birokrasi dan pelayanan publik 5,3%. Meski tidak setinggi isu pekerjaan, ketiga hal ini tetap mencerminkan kebutuhan dasar yang dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari akses tempat tinggal hingga layanan publik yang efisien. Kemudian, isu lingkungan dan iklim berada di angka 1,9%, literasi digital (1,5%), serta kategori lainnya (1,2%).
Hal ini menegaskan bahwa kebijakan pemerintah ke depan perlu lebih berfokus pada penciptaan lapangan kerja yang inklusif dan berkelanjutan. Upaya seperti peningkatan kualitas pendidikan vokasi, pelatihan keterampilan berbasis kebutuhan industri, serta dukungan terhadap kewirausahaan muda menjadi langkah strategis yang dapat diprioritaskan.
Baca Juga: 58% Publik Tidak Puas dengan Program 19 Juta Lapangan Kerja
Sumber:
https://www.mudabicara.id/kajian/rilis-laporan-survei-nasional-muda-bicara-id-q1/