Luas Area Karhutla Indonesia Januari-Juni 2026, Kalimantan Masih Nomor 1!

Area terbakar terluas di Indonesia masih dipegang oleh Pulau Kalimantan, tembus hingga 37.66 ribu hektare sepanjang Januari sampai Juni 2026.

Sebaran Luas Area Karrhutla di Indonesia Berdasarkan Pulau

(Januari-Juni 2026)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin masif terjadi di Indonesia pada tahun 2026, bahkan sudah terjadi setiap tahunnya sejak 1997-2000. Keanekaragaman hayati hutan berangsur hilang, memberikan dampak nyata terhadap kerusakan lingkungan, konflik agraria, kesehatan, ekonomi, sosial dan budaya.

MapBiomas Indonesia melalui fact sheet (lembar nyata) bertajuk Area Terbakar di Indonesia 2000-2024 mencatat bahwa selama kurun waktu 25 tahun terakhir, luas tanah yang pernah terbakar setidaknya sekali dalam setahun mencapai 9,5 juta hektare, 144 kali lebih besar dari luas Jakarta.

Dalam rentang tahun 2000 sampai 2014, 70% kebakaran terjadi di Kalimantan dan Sumatra dengan masing-masing menyumbang sebanyak 30,46% dan 39,14%. Puncaknya terjadi di 2015, saat 723 ribu hektare hutan dan lahan di Kalimantan terbakar.

Angka tersebut semakin diperkuat dalam laporan infografis yang juga dipublikasikan oleh MapBiomas Indonesia bahwa sebaran luas terbakar di Indonesia sepanjang bulan Januari hingga Juni 2026 mencapai 178 ribu hektare.

Baca Juga: 10 Provinsi dengan Area Karhutla Terluas per Juni 2026, Kalimantan Barat Mendominasi

Kalimantan menjadi pulau dengan area terbakar terluas, menyumbang total 37,66 ribu hektare yang mana 20,41 ribu hektare terjadi di lahan gambut 17,25 ribu sisanya berada di lahan mineral. Sementara itu, luas area terbakar Bali dan Nusa Tenggara mencapai angka 33,38 ribu hektare, seluruhnya merupakan lahan mineral.

Salah dua provinsi di pulau Nusa Tenggara dan Kalimantan, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT) serta Kalimantan Barat bahkan termasuk ke dalam 10 provinsi teratas dengan area kebakaran terluas dari bulan Januari.

Adapun urutan ketiga ditempati oleh Papua seluas 25,94 ribu hektare yang didominasi oleh lahan mineral sebesar 21,57 ribu hektare. Hampir selaras, luas area terbakar di Sumatra mencapai 25,19 ribu hektare, namun kebanyakan terjadi di lahan gambut.

Lebih lanjut, area terbakar di Sulawesi menembus 23,30 ribu hektare dengan 23,11 ribu hektare areanya terjadi di lahan mineral. Sementara itu, Jawa menyusul di bawahnya seluas 20,85 ribu hektare yang seluruhnya merupakan lahan mineral.

Maluku menutup daftar persebaran luas area terbakar berdasarkan pulau pada Semester I 2026, yakni seluas 11,92 ribu hektare. Data ini memperlihatkan bahwa kebakaran di Indonesia kebanyakan terjadi di area lahan mineral.

Baca Juga: Bukan Sekadar El Niño: Mengapa Kalimantan Terus Terbakar?

Sumber:

https://fire.mapbiomas.id/storage/files/photos/9j4VA4Q3tV2NAlrKoEWAdw5LB4bR3j2uyeWwGCmx.png

Key Insights

  • Kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun sejak 1997 menunjukkan karhutla bukan lagi anomali, melainkan masalah struktural dan persisten di Indonesia.
  • Luas 9,5 juta hektare lahan terbakar dalam 25 tahun setara 144 kali luas Jakarta, mengindikasikan skala kerusakan lingkungan yang masif dan berdampak jangka panjang.
  • Dominasi karhutla di Kalimantan dan Sumatra (70%) pada 2000-2014, dengan puncak 723 ribu hektare di Kalimantan pada 2015, menyoroti kerentanan ekosistem gambut yang tinggi di kedua pulau tersebut.
  • Pergeseran sebaran karhutla ke Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi yang didominasi lahan mineral pada 2026 menunjukkan bahwa masalah karhutla meluas melampaui area gambut tradisional dan memerlukan pendekatan mitigasi yang lebih beragam.
  • Meskipun Kalimantan masih menjadi penyumbang terbesar karhutla pada 2026, proporsi lahan mineral yang tinggi di pulau lain mengindikasikan faktor pemicu selain gambut kering, seperti pembukaan lahan atau kekeringan ekstrem.
Zalfa Ronaa
Ditulis oleh Zalfa Ronaa

Jurnalis data GoodStats Data

Lupa Sandi?

atau masuk dengan akun media sosial

Esc