Berdasarkan survei Jakpat, keputusan publik Indonesia untuk mulai mempraktikkan perilaku hemat energi dan peduli lingkungan didorong oleh berbagai latar belakang.
Alasan yang paling mendominasi adalah kesadaran kolektif untuk menyelamatkan bumi dengan cara mengurangi limbah. Sebanyak 65% responden menempatkan faktor ini sebagai motivasi utama, menjadi sinyal kuat bahwa urgensi menjaga kelestarian alam telah tertanam menjadi tanggung jawab bersama di tengah publik.
Menyusul di posisi kedua, muncul tren menyortir dan merapikan barang yang sudah tidak terpakai di rumah atau decluttering, menjadi alasan bagi 53% responden.
Baca Juga: Di Balik Tren Fast Fashion: Murah di Harga, Mahal bagi Lingkungan
Barang-barang yang masih layak pakai dari hasil decluttering tersebut sering kali diputar kembali ke masyarakat dengan harga terjangkau melalui skema garage sale, sehingga meminimalisasi penumpukan sampah domestik.
Dengan proporsi angka yang sama, 53% publik juga meyakini bahwa konsisten menerapkan rutinitas hemat energi dapat mengurangi pengeluaran bulanan yang bersifat konsumtif, baik itu tagihan utilitas maupun alokasi belanja harian.
Di sisi lain, faktor empati yang melibatkan dimensi perasaan turut mewarnai transisi menuju kebiasaan ramah lingkungan. Terdapat 50% publik Indonesia yang bergerak karena ingin memastikan kualitas lingkungan tetap sehat dan layak huni bagi generasi mendatang.
Hal ini diikuti pula oleh rasa kepuasan dan bangga karena telah berkontribusi langsung pada kebersihan lingkungan sekitar, dengan proporsi sebesar 46%.
Kewaspadaan terhadap bencana juga tercatat dalam survei ini. Sebanyak 44% responden mengaku menerapkan perilaku menjaga lingkungan semata-mata untuk mencegah terjadinya banjir lokal di kawasan tempat tinggal mereka.
Lebih lanjut, kepedulian ekonomi terwujud dari 38% responden yang menjadikan langkah hemat energi ini sebagai bentuk dukungan riil terhadap pertumbuhan bisnis lokal dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Transisi hijau ini rupanya tidak melulu berkutat pada urusan duniawi. Aspek spiritual ikut menjadi landasan yang dipegang teguh, dengan 25% publik mengungkapkan bahwa upaya merawat alam adalah bentuk implementasi langsung dari ajaran agama yang mereka ikuti.
Sebagai pelengkap, geliat pasar hijau mulai menjadi perhatian 24% responden yang menyatakan ketertarikannya terhadap inovasi berbagai produk ramah lingkungan, disusul oleh faktor sentimental terkait pelestarian warisan budaya serta tradisi leluhur yang disebutkan oleh 16% publik.
Pengumpulan data dalam survei ini dilakukan dengan metode kuantitatif melalui kuesioner yang disebarkan via Jakpat mobile app pada 16-17 April 2026, dengan total 1.373 responden yang didominasi oleh kelompok Gen Z (45%), diikuti oleh Milenial (43%) dan Gen X (12%). Dengan tingkat kepercayaan yang terjaga, survei ini memiliki margin of error di bawah 5%.
Baca Juga: WFH ASN Diberlakukan Demi Hemat BBM, Ini Aturan yang Perlu Diketahui
Sumber:
https://insight.jakpat.net/sustainable-living-the-plastic-pivot-responding-to-market-changes/