Pada tanggal 20 dan 21 Februari 2025 lalu, mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat di beberapa daerah turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi yang bertajuk #IndonesiaGelap. Aksi demonstrasi ini dipicu oleh serangkaian kejadian mulai dari kenaikan tarif PPN menjadi 12%, kinerja kabinet Prabowo-Gibran yang dianggap belum berpihak pada rakyat, serta isu kenaikan uang kuliah tunggal (UKT) yang dilontarkan oleh mantan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Satryo Brodjonegoro imbas pemangkasan anggaran.
Demonstrasi #IndonesiaGelap menuai berbagai reaksi di kalangan warganet, ada yang mendukung, ada pula yang merasa aksi demonstrasi sebagai hal yang mengganggu dan tidak perlu dilakukan. Berdasarkan National Kawula Survey Q3 2024 yang dirilis oleh Kawula17, memang terdapat beberapa warga Indonesia yang masih menganggap aktivisme sebagai sebuah hal yang tidak penting.
Kawula17 mengelompokkan tingkat aktivisme ke dalam lima kelompok yaitu, gladiator, aktivis, partisipan, spektator, dan apolitis. Berdasarkan survei, hanya terdapat 44% responden yang berpartisipasi dalam aktivisme politik (masuk ke dalam golongan partisipan, aktivis, dan gladiator). Rinciannya, sebanyak 2% responden masuk ke dalam kelompok gladiator, 15% masuk ke dalam kelompok aktivis, dan 27% masuk ke dalam kelompok partisipan.
Kelompok gladiator merupakan kelompok kelompok yang sangat aktif dalam politik, sering menjadi anggota partai, kandidat, atau aktivis penggerak. Sementara itu, kelompok aktivis adalah kelompok yang sering terlibat dalam kampanye, demonstrasi, dan kegiatan mendukung isu atau kandidat. Kelompok partisipan adalah mereka yang rutin berpartisipasi dalam aktivitas politik seperti pemilu dan diskusi politik.
Kelompok spektator menjadi yang terbesar di antara kelima kelompok tersebut, totalnya mencapai 36% responden. Kelompok spektator adalah kelompok yang mengikuti perkembangan politik secara pasif.
Berdasarkan survei, ada 19% responden yang masuk ke dalam kelompok apolitis. Kelompok apolitis merupakan kelompok yang tidak tertarik atau tidak terlibat dalam aktivitas politik.
Survei tersebut dilakukan pada 19-23 September 2024 menggunakan metode Computer Assisted Self Interviewing (CASI) atau survei daring dengan melibatkan 425 responden dengan rentang umur 17-44 tahun.