Keterlibatan perempuan dalam pasar kerja Indonesia terus menunjukkan tren positif, meski peningkatannya cenderung moderat. Pada 2025, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan tercatat 56,63%, naik tipis dibandingkan 56,42% pada 2024.
Jika dilihat dalam beberapa tahun terakhir, partisipasi perempuan mengalami kenaikan bertahap dari 53,13% pada 2020, 53,34% pada 2021, 53,41% pada 2022, hingga tembus 54,52% pada 2023, sebelum meningkat lebih signifikan pada 2024. Kenaikan pada 2025 melanjutkan tren tersebut, meskipun dengan laju yang lebih lambat.
Di sisi lain, tingkat partisipasi laki-laki masih jauh lebih tinggi. Pada 2025, TPAK laki-laki tercatat 84,4%, sedikit menurun dari 84,66% pada 2024. Sejak 2020, nilainya juga konsisten terus meningkat, dari 82,41% pada 2020, naik menjadi 82,77% pada tahun berikutnya, hingga tembus 84,26% pada 2023.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa meskipun semakin banyak perempuan yang masuk ke dunia kerja, perbedaan partisipasi berdasarkan gender masih cukup lebar.
Baca Juga: Indeks Ketimpangan Gender Indonesia Membaik dalam 7 Tahun Terakhir
Peningkatan partisipasi pekerja perempuan dapat disebabkan oleh membaiknya akses pendidikan, meningkatnya tuntutan ekonomi, hingga bertambahnya peluang kerja di sektor formal maupun informal. Perempuan kini semakin terlibat aktif dalam perputaran roda ekonomi nasional.
Meski begitu, pekerja perempuan Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari beban ganda dalam rumah tangga, terbatasnya akses terhadap pekerjaan berkualitas, hingga minimnya dukungan seperti fasilitas penitipan anak.
Secara keseluruhan, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) pada 2025 turun 0,019 poin menjadi 0,402, mencerminkan adanya perkembangan yang konsisten dalam upaya peningkatan kesetaraan gender di Indonesia. Dalam lima tahun terakhir, nilainya selalu turun.
Baca Juga: Mengukur Indeks Ketimpangan Gender di Indonesia
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/2576/indeks-ketimpangan-gender.html