10 Provinsi dengan Angka Buta Aksara Tertinggi 2025

Papua Pegunungan (31,68%) menjadi provinsi dengan persentase penduduk buta aksara terbanyak pada tahun 2025, diikuti Papua Tengah (14,18%) dan NTB (8,93%).

10 Provinsi dengan Angka Buta Aksara Tertinggi

(Tahun 2025)
Ukuran Fon:

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Papua Pegunungan menempati posisi teratas sebagai provinsi dengan angka buta aksara tertinggi pada tahun 2025, yaitu mencapai 31,68%. Dengan ini, hampir sepertiga penduduk usia 15 tahun ke atas di wilayah tersebut belum mampu membaca dan menulis.

Masih dari wilayah timur Indonesia, Papua Tengah menempati posisi kedua dengan angka buta aksara sebesar 14,18%. Nusa Tenggara Barat (NTB) menyusul di peringkat ketiga dengan persentase 8,93%, menjadikannya sebagai provinsi dari luar Papua dengan tingkat buta aksara tertinggi pada tahun ini.

Baca Juga: 7 dari 10 Publik RI Masih Malas ke Perpustakaan

Dengan angka yang lebih kecil, Jawa Timur menyusul di posisi berikutnya dengan 5,15% sekaligus sebagai provinsi pertama dari Pulau Jawa dalam daftar ini. Sementara itu, Sulawesi Selatan menjadi pelengkap peringkat lima besar dengan proporsi 4,95%.

Bangku keenam diisi oleh Jawa Tengah dengan persentase penduduknya yang buta aksara sebanyak 4,8%. Adapun Papua Selatan menduduki urutan ketujuh dengan angka 4,73%.

Dua posisi selanjutnya ditempati oleh provinsi asal wilayah tengah Indonesia, yaitu Sulawesi Barat dan Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan angka buta aksara masing-masing sebesar 4,38% dan 4,08%. Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta menutup pemeringkatan dengan persentase yang berselisih tipis dengan NTT, yaitu 4,07%.

Dengan ini, provinsi dalam daftar didominasi oleh wilayah asal Pulau Papua dan Jawa, dengan masing-masing menyumbangkan tiga provinsinya dalam pemeringkatan. Sedangkan, Pulau Sulawesi hanya memunculkan dua provinsinya, serupa dengan Kepulauan Nusa Tenggara.

Dalam upaya penuntasan angka buta aksara, salah satu bupati di Papua Pegunungan akan mencanangkan sistem pendidikan yang mudah diakses dan fleksibel, seperti pendidikan nonformal dan informal (PNFI) melalui pendidikan keaksaraan.

“Kami terus berkomitmen untuk menekan buta aksara ini. Kami terus melakukan intervensi terhadap masyarakat. Setidaknya masyarakat usia 15-50 tahun di Yahukimo tidak ada yang tidak bisa baca dan berhitung,” ucap Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli dalam kegiatan Gebyar PNFI dan Perayaan Hari Aksara Internasional 2025 di Jakarta, Jumat (26/9/2025).

Targetnya, program literasi juga terus digencarkan dengan membangun pojok-pojok baca di 26 desa/kelurahan yang ada, termasuk membangun perpustakaan daerah. Pada periode sebelumnya, langkah tersebut dirasa turut berdampak dalam mengurangi penduduk buta aksara di Yahukimo,dari sekitar 5 ribu orang pada 2020 menjadi sekitar 2 ribu orang para 2024.

“Cita-cita mendasar kami adalah bagaimana orang Yahukimo sehat, cerdas, dalam artian tahu baca dan tahu hitung agar mereka dapat percaya diri, kreatif, dan menjadi mandiri,” pungkasnya.

Baca Juga: Punya Perpustakaan Tertinggi di Dunia, Minat Baca di Indonesia Masih Rendah

Sumber:

https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTAyIzI=/angka-buta-aksara-menurut-provinsi-dan-kelompok-umur--persen-.html

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook