Tekanan harga kembali menguat di awal 2026, namun dampaknya tidak dirasakan secara merata di seluruh Indonesia. Sejumlah provinsi mencatat inflasi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lain, menandakan adanya perbedaan kondisi ekonomi, distribusi barang, hingga pola konsumsi masyarakat di tingkat daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi tahunan Indonesia berada di angka 3,55% (year-on-year/yoy) pada Januari 2026. Laju inflasi ini menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023, di mana kala itu inflasi mencapai 4% yoy.
Menurut provinsinya, Aceh mencatatkan tingkat inflasi tahunan tertinggi, mencapai 6,69% yoy.
Baca Juga: Laju Inflasi Indonesia Naik pada Desember 2025
Di urutan kedua, Sulawesi Tenggara meraih inflasi sebesar 5,10% yoy, disusul Papua Barat dengan 5,02% dan Maluku Utara mencapai 4,86%. Daftar lima besar ditutup oleh Papua Tengah dengan tingkat inflasi sebesar 4,85%.
Provinsi dengan inflasi terbesar berikutnya dipegang Papua Selatan dengan 4,83%, disusul Maluku dengan 4,70% dan Kalimantan Selatan sebesar 4,66%. Sulawesi Tengah dan Gorontalo mengisi posisi kesembilan dan kesepuluh dengan tingkat inflasi masing-masing sebesar 4,55% dan 4,53% yoy.
Sebaliknya, Lampung menjadi provinsi dengan inflasi terendah, sebesar 1,9% yoy.
Adapun komoditas penyumbang inflasi tahunan terbesar adalah tarif listrik, dengan andil sebesar 1,49%. Emas perhiasan menyusul di urutan kedua dengan 0,93%, diikuti ikan segar (0,19%), beras (0,14%), dan tarif air minum PAM (0,14%).
Sementara itu, kelompok pengeluaran dengan tingkat inflasi tertinggi dipegang oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 15,22%, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang inflasinya sebesar 11,93%, serta kesehatan dengan 1,62%.
Baca Juga: 10 Provinsi dengan Inflasi Tertinggi November 2025
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/02/2540/inflasi-year-on-year--y-on-y--pada-januari-2026-sebesar-3-55-persen.html