Berapa Cadangan Devisa Negara dalam 1 Tahun Terakhir?

Pada April tahun 2026, cadangan devisa negara sebesar US$146,2 miliar, turun sebesar 4,1% dibandingkan cadangan pada Mei tahun 2025 yang senilai US$152,5 miliar.

Besaran Cadangan Devisa Negara

(Tahun 2025-2026)
Ukuran Fon:

Cadangan devisa adalah seluruh aset luar negeri yang dikuasai oleh otoritas moneter (bank sentral) dan dapat digunakan setiap saat untuk membiayai ketidakseimbangan pembayaran luar negeri atau menjaga stabilitas nilai tukar mata uang domestik.

Secara sederhana, cadangan devisa dapat berfungsi sebagai tabungan negara dalam skala global untuk memastikan ekonomi tetap berjalan meski terjadi krisis.

Berdasarkan siaran pers yang dirilis setiap bulannya oleh Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral di Indonesia, posisi cadangan devisa negara Indonesia menunjukkan dinamika yang cukup fluktuatif dengan kecenderungan menyusut dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dibandingkan Negara G20, Apa yang Mendorongnya?

Mulanya pada Mei tahun 2025, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$152,5 miliar. Angka tersebut sempat menunjukkan penguatan tipis dan naik menjadi US$152,6 miliar pada akhir Juni di tahun yang sama.

Namun, memasuki bulan berikutnya, tren penyusutan mulai terlihat. Nilai devisa terkoreksi menjadi US$151,1 miliar pada Juli, sebelum akhirnya terus melandai ke posisi US$150,7 miliar pada Agustus. Tekanan terhadap cadangan devisa ini terus berlanjut hingga September dan Oktober tahun 2025 dengan catatan berturut-turut sebesar US$148,7 miliar dan US$150 miliar.

Kendati demikian, kondisi mulai berbalik pada November dengan adanya kenaikan tipis menjadi US$150,1 miliar. Momentum penguatan ini kian memuncak pada Desember, saat cadangan devisa negara melesat hingga mencapai US$156,5 miliar. Periode penutup tahun ini sekaligus menjadi catatan cadangan devisa terbesar dalam satu tahun terakhir.

Memasuki tahun 2026, posisi devisa kembali mengalami tekanan. Pada Januari, angka cadangan devisa turun ke level US$154,6 miliar, dan kembali merosot tajam hingga menyentuh US$151,9 miliar pada Februari.

Tren pelemahan ini kian nyata pada Maret dengan posisi sebesar US$148,2 miliar, diikuti penurunan lanjutan pada April menjadi US$146,2 miliar. Secara akumulatif, dalam periode satu tahun terakhir (Mei 2025-April 2026), cadangan devisa negara Indonesia mengalami penyusutan sebesar 4,1%.

Meski turun, BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

“Itu lebih dari cukup, kami ukur kebutuhan-kebutuhan untuk intervensi,” tutur Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Menurut Perry, langkah intervensi yang dilakukan BI untuk menguatkan nilai tukar sudah maksimal.

“Kami itu intervensi di pasar luar negeri, di Hong Kong kami intervensi, Singapura kami intervensi, London kami intervensi, New York kami intervensi. Itu namanya bukan business as usual, itu all out,” tambahnya.

Baca Juga: 61% Anak Muda Nilai Tekanan Ekonomi Jadi Tantangan Utama Kesehatan Mental

Sumber:

https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_289626.aspx

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook