Hampir 80% Masyarakat Indonesia Lakukan Pengobatan Sendiri

79,74% masyarakat Indonesia melakukan swamedikasi ketika sakit. Keterbatasan waktu dan biaya menjadi salah satu faktor utamanya.

Persentase Penduduk yang Mengobati Sendiri Selama Sebulan Terakhir Berdasarkan Provinsi

Sumber: BPS (Badan Pusat Statistik)
GoodStats

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 menunjukkan bahwa 80% masyarakat Indonesia melakukan pengobatan sendiri (swamedikasi) selama sebulan terakhir. Kalimantan Selatan merupakan provinsi dengan persentase tertinggi, mencapai 89%.

Persentase masyarakat yang melakukan swamedikasi ternyata menurun dalam 3 tahun terakhir. Pada 2021, masyarakat yang melakukan swamedikasi tercatat sebesar 84,23%, sedikit naik di 2022 menjadi 84,34%. Namun pada 2023, jumlahnya menurun menjadi 79%.

Swamedikasi dapat diartikan sebagai upaya pengobatan mandiri. Saat terkena gejala penyakit, seseorang dapat membuat keputusan untuk merawat dan mengobati gangguan kesehatannya tanpa konsultasi langsung dengan tenaga medis profesional.

Seseorang yang melakukan swamedikasi biasanya mengandalkan obat bebas dan obat herba. Obat bebas dapat diperoleh di apotek tanpa memerlukan resep dokter khusus. Obat bebas ditandai dengan label hijau dengan lingkaran hitam. Obat-obat seperti ini memudahkan seseorang untuk melakukan pengobatan mandiri.

Ada beberapa alasan yang membuat seseorang melakukan swamedikasi. Aksesibilitas ke apotek yang mudah, keterbatasan waktu untuk berkunjung ke rumah sakit, hingga biaya konsultasi yang dianggap mahal menjadi beberapa alasan utama.

Baca Juga: 80% Warga Desa Masih Melakukan Pengobatan Sendiri, Sudahkah Fasilitas Kesehatan Merata di Indonesia?

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook