Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia bisnis terus berkembang, namun tidak semua pelaku usaha langsung mengadopsinya. Sebagian masih menunjukkan keraguan, bahkan lebih memilih hasil kerja manusia dibandingkan teknologi AI.
Hal ini tergambar dalam temuan survei yang menunjukkan bahwa sekitar seperempat pelaku usaha masih lebih mengutamakan kualitas hasil kerja manusia dibandingkan AI. Preferensi ini mencerminkan adanya kekhawatiran terkait kualitas output yang dihasilkan oleh teknologi, terutama untuk kebutuhan bisnis yang spesifik.
Baca Juga: Gen Z Dominasi Pemanfaatan AI Sebagai Strategi Marketing Bisnis
Salah satu alasan utama di balik keraguan tersebut adalah kurangnya pemahaman dalam menggunakan AI. Sebanyak 31% responden mengaku tidak tahu bagaimana cara menggunakan teknologi ini secara efektif. Hal ini menjadi hambatan terbesar dalam adopsi AI, mengingat pemanfaatannya membutuhkan pengetahuan dan keterampilan tertentu.
Selain itu, 28% responden menilai bahwa hasil yang diberikan AI belum cukup relevan atau tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Ketidaksesuaian ini membuat pelaku usaha ragu untuk mengandalkan AI dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
Sebanyak 24% responden juga menyatakan lebih percaya pada kualitas hasil kerja manusia. Kepercayaan terhadap sentuhan manusia masih dianggap penting, terutama dalam aspek kreativitas, komunikasi, dan pemahaman konteks yang lebih kompleks.
Di sisi lain, kompleksitas teknologi juga menjadi tantangan. Sekitar 16% responden merasa terlalu banyak pilihan tools AI yang tersedia, sehingga membingungkan dalam menentukan mana yang paling sesuai. Angka yang sama juga menyebutkan bahwa mereka tidak memiliki cukup waktu untuk mempelajari teknologi tersebut.
Hambatan lain yang turut memengaruhi adalah faktor bahasa, dengan 15% responden merasa terbatas karena sebagian besar tools AI masih berbahasa Inggris. Selain itu, 13% responden menilai penggunaan AI masih tergolong mahal.
Kekhawatiran terkait keamanan data juga menjadi perhatian, dengan 11% responden merasa ragu terhadap perlindungan data saat menggunakan AI. Sementara itu, 10% responden mengaku terkendala koneksi internet yang belum stabil, dan 4% lainnya khawatir AI dapat mengancam lapangan pekerjaan.
Adapun survei ini dilakukan oleh Jakpat pada 5–6 Februari 2026 dengan melibatkan 1.387 responden dan margin of error di bawah 5%. Komposisi responden disesuaikan dengan populasi pengguna internet di Indonesia.
Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa meskipun AI memiliki potensi besar dalam mendukung bisnis, tingkat adopsinya masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari literasi teknologi hingga kepercayaan terhadap hasil yang dihasilkan. Edukasi dan kemudahan akses menjadi kunci untuk mendorong pemanfaatan AI yang lebih luas di kalangan pelaku usaha.
Baca Juga: Lokasi Masih Jadi Kunci Utama Memulai Bisnis di Indonesia
Sumber:
https://insight.jakpat.net/trends-in-modern-entrepreneurship/