Tren Luas Karhutla di Indonesia, per Maret 2026 Hampir Seluas Jakarta

Sepanjang Triwulan I 2026, luas karhutla di Indonesia sudah mencapai 55,3 ribu ha, hampir menyaingi besar Jakarta yang luasnya 66,1 ha..

Tren Luas Karhutla di Indonesia

(2016-Maret 2026)
Ukuran Fon:

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui situs web SiPongi, total luas bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia dalam rentang Januari–Maret 2026 telah menyentuh 55.324 hektare (ha).

Meskipun baru mencakup kejadian karhutla pada tiga bulan pertama tahun 2026, angka ini sudah mendekati luas wilayah Jakarta yang besarnya 66.152 ha.

Dalam sedekade terakhir, tren luas karhutla di Indonesia menunjukkan pola yang fluktuatif dengan lonjakan besar pada tahun tertentu. Mulanya pada tahun 2016, luas karhutla di Indonesia sebesar 438.363 ha.

Baca Juga: Tren Kehilangan Hutan Primer Indonesia 2014-2024

Angka ini kemudian mengalami penurunan menjadi 165.483 ha pada tahun 2017, sekaligus sebagai periode dengan luas karhutla terkecil di Indonesia dalam rentang 2016 – 2026. Kemudian, luas karhutla meningkat pada tahun 2018 dan menyentuh 529.267 ha.

Sementara itu, puncak karhutla terjadi pada tahun 2019 dengan luas mencapai 1.649.258 ha atau bahkan hingga 3 kali lipat dari periode sebelumnya, menjadikannya sebagai tahun dengan karhutla terparah dalam sedekade belakang ini.

Luas karhutla di Indonesia sempat menurun drastis pada tahun 2020 menjadi 296.942 ha, sebelum kembali naik pada tahun berikutnya sebesar 358.867 ha dan menurun lagi pada tahun 2022 dengan angka 204.894 ha.

Walaupun tidak seluas periode puncak sebelumnya pada tahun 2019, lonjakan kejadian karhutla kembali terjadi pada tahun 2023 dengan luas mencapai 1.161.193 ha.

Dalam dua tahun terakhir, luas karhutla kembali mengalami penurunan. Pada tahun 2024, karhutla yang terjadi di Indonesia sebesar 376.805 ha dan mengalami sedikit penyusutan menjadi 359.619 ha pada tahun 2025.

Per Maret tahun 2026, luas karhutla masih berada di angka 55.324 ha yang relatif rendah karena masih berada pada fase musim hujan. Kendati demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan adanya potensi kemunculan El Nino lemah hingga moderat pada Semester II 2026 yang dapat memperparah kondisi kemarau.

Fenomena ini berpotensi menekan curah hujan dan memperpanjang periode kering, sehingga meningkatkan risiko karhutla secara signifikan. El Nino yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau dapat membuat dampak lebih besar.

“Pemanasan di wilayah Nino 3.4 berpotensi berkembang menjadi El Nino lemah hingga moderat, yang dapat menekan pembentukan awan hujan di Indonesia dan menyebabkan penurunan curah hujan,” jelas Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dalam Rapat Koordinasi Karhutla di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Dengan demikian, meskipun angka karhutla pada Triwulan I 2026 terhitung masih kecil, terdapat potensi lonjakan tajam pada pertengahan hingga akhir 2026 seiring masuknya puncak kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Nino.

Baca Juga: Ada 671 Kejadian Bencana di Indonesia per Maret 2026

Sumber:

https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/indikasi-luas-kebakaran

Terima kasih telah membaca sampai di sini

atau

Untuk mempercepat proses masuk atau pembuatan akun, bisa memakai akun media sosial.

Hubungkan dengan Google Hubungkan dengan Facebook