Indonesia kini masih dihadapkan pada tantangan besar dalam menekan emisi karbon, khususnya yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sektor ini menjadi salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca nasional karena melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer dalam waktu singkat.
Dalam pelaporannya, emisi ini biasanya dinyatakan dalam satuan karbon dioksida ekuivalen (CO₂e). Satuan ini digunakan untuk menyederhanakan berbagai jenis gas rumah kaca ke dalam satu ukuran yang setara dengan dampak pemanasan yang ditimbulkan oleh CO₂
Menurut data Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui situs web SiPongi, emisi CO₂ akibat karhutla tercatat sebesar 128,73 juta ton CO₂e pada tahun 2016. Angka ini kemudian turun drastis pada tahun 2017 menjadi 24,66 juta ton CO₂e, sekaligus menjadi yang terendah dalam satu dekade terakhir.
Baca Juga: Tren Luas Karhutla di Indonesia, per Maret 2026 Hampir Seluas Jakarta
Sejalan pula dengan luas karhutla yang terjadi pada periode tersebut. SiPongi mencatat angka karhutla di Indonesia pada tahun 2017 sebesar 165.483 ha, terkecil dalam rentang 2016–2026 pula.
Memasuki tahun 2018, emisi kembali naik hingga mencapai 162,75 juta ton CO₂e. Puncaknya terjadi pada tahun 2019, ketika emisi CO₂ meningkat tajam menjadi 624,16 juta ton CO₂e, menjadikannya sebagai tahun dengan dampak emisi terbesar yang disebabkan oleh karhutla sepanjang periode ini.
Sementara itu, puncak karhutla juga terjadi pada tahun 2019 dengan luas mencapai 1.649.258 ha atau bahkan hingga tiga kali lipat dari periode sebelumnya, menjadikannya sebagai tahun dengan karhutla terparah dalam sedekade belakang ini.
Setelah lonjakan tersebut, emisi CO₂ menurun drastis pada tahun 2020 menjadi 40,2 juta ton CO₂e. Tren penurunan ini tidak berlangsung lama, karena pada periode berikutnya emisi karbon akibat karhutla di Indonesia kembali naik menjadi 46,46 juta ton CO₂e, sebelum kembali turun pada tahun 2022 ke angka 23,53 juta ton CO₂e.
Kenaikan kembali terjadi pada tahun 2023 dengan emisi karena karhutla mencapai 182,71 juta ton CO₂e. Dalam dua tahun terakhir, emisi karbon yang disebabkan karhutla kembali menunjukkan tren penurunan, yakni menjadi 53,53 juta ton CO₂e pada tahun 2024 dan sedikit meningkat menjadi 56,2 juta ton CO₂e pada tahun 2025.
Emisi CO₂ akibat karhutla dipengaruhi oleh intensitas kebakaran yang terjadi setiap tahunnya. Menteri Lingkungan Hidup (LH) Republik Indonesia (RI), Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan bahwa karhutla menjadi salah satu penyumbang utama emisi gas rumah kaca yang mempercepat pemanasan global.
“Upaya pengendalian karhutla tahun ini menjadi bukti komitmen terhadap kemanusiaan dan keberlanjutan ekosistem. Langkah operasional harus segera diperkuat dan dilaksanakan secara terpadu,” tekadnya dalam rapat koordinasi di Kantor KLH Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, (7/4/2026).
Baca Juga: 80% Publik Harap Pemerintah Susun Target Penurunan Emisi Karbon 2026
Sumber:
https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/emisi-co2