Berdasarkan publikasi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), kebiasaan ganti kata sandi atau password secara berkala masih belum menjadi budaya yang melekat di kalangan pengguna internet di Indonesia. Padahal, hal ini merupakan salah satu langkah menjaga keamanan data internet dari ancaman kebocoran maupun serangan siber.
Faktanya, survei ini mengungkap bahwa mayoritas publik Indonesia ternyata tidak pernah mengganti password akun digital mereka, dengan proporsi mencapai angka mayoritas sebesar 52,9%.
Ketika ditelusuri lebih jauh terkait alasan tidak mengganti password, dominasi publik menjadikan faktor takut lupa dengan kata sandi yang baru sebagai alasan utama, dengan persentase sebesar 39,2%.
Baca Juga: Password Paling Pasaran di Asia Tenggara
Sementara itu di urutan kedua, sebanyak 29,6% warganet mengaku bahwa mereka sekadar merasa tidak perlu untuk mengganti password-nya.
Di sisi lain, tingkat kepercayaan diri terhadap pengamanan akun perlindungan pribadi juga menjadi faktor penentu. Terdapat 19,8% kelompok yang merasa enggan memperbarui kredensial login karena meyakini bahwa kata sandi aman dan masih mumpuni untuk menangkal peretasan.
Kendati demikian, literasi digital yang belum sepenuhnya merata juga masih menjadi tantangan di lapangan. Hal ini terbukti dari adanya 8,6% responden yang secara jujur mengaku tidak tahu bagaimana tata cara untuk mengganti password akun mereka.
Adapun kerumitan dalam mengelola jejak digital turut menjadi persoalan. Sebanyak 2,8% publik Indonesia menjadikan alasan terlalu banyaknya akun yang dimiliki sebagai alasan mereka malas memperbarui kata sandi.
Dari survei yang sama, terdapat pula publik yang memiliki kesadaran literasi digital tinggi terhadap pentingnya keamanan data internet. Kelompok ini memilih untuk mengganti password akun mereka secara lebih disiplin, baik itu merespons indikasi ancaman peretasan maupun yang menjadikannya sebagai rutinitas pencegahan.
Ketika dirinci, sebanyak 30,1% responden menyatakan bahwa mereka baru akan mengganti kata sandi ketika ada pemicu khusus, yaitu setelah mereka menerima notifikasi perubahan password dari sistem atau ketika mereka mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan dan merasa terancam akan diretas.
Sedangkan, di antara responden yang secara proaktif merawat keamanan akunnya, mayoritas lebih memilih rutinitas mengganti password secara berkala dalam rentang waktu sebulan sekali (4,7%), disusul oleh kelompok publik yang disiplin memperbarui kata sandinya setiap setahun sekali (4,1%).
Pengumpulan data dalam survei bertajuk Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet 2026 ini dilakukan melalui wawancara tatap muka, dengan melibatkan 8.700 responden yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi pada 1 Februari-15 Maret 2026. Metode penentuan sampel menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error sebesar 1,1%.
Baca Juga: Seberapa Sering Warga Indonesia Ganti Password?
Sumber:
https://survei.apjii.or.id/