Berdasarkan publikasi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), publik Indonesia memiliki preferensi yang cukup dinamis terkait pemilihan masa berlaku paket data seluler mereka.
Dalam laporan tahun 2026 ini, paket internet dengan durasi sebulan atau 30 hari masih menjadi opsi yang paling umum dari responden. Pilihan ini mendominasi dengan persentase yang mencapai 64,1%.
Kendati demikian, porsi peminat paket internet bulanan ini nyatanya mengalami penyusutan jika dibandingkan dengan data survei pada periode sebelumnya, yaitu pada tahun 2025 yang angkanya sempat menyentuh 72%.
Baca Juga: Top 3 Operator Seluler Pilihan Publik Indonesia 2026
Sementara itu, tren penggunaan kuota dengan durasi yang lebih singkat justru terlihat merangkak naik. Paket data seluler mingguan atau 7 hari kini dipilih oleh 25,8% responden, naik jika dibandingkan tahun lalu yang porsinya hanya berada di angka 19,3%.
Lebih lanjut, terdapat pula kelompok yang lebih menyukai paket kuota berdurasi sangat singkat, yaitu paket harian. Opsi masa aktif 24 jam ini dipilih oleh 9,9% publik. Angka ini juga mencatatkan peningkatan dari porsi tahun sebelumnya sebesar 8,1%.
Di sisi lain, terdapat pula sebagian kecil publik yang justru lebih gemar berlangganan layanan operator seluler dengan masa aktif yang panjang, yaitu setahun penuh. Meski begitu, responden yang menjadikan paket internet tahunan ini sebagai pilihan utamanya sangat minim, yaitu hanya sebesar 0,2%.
Proporsi publik yang memilih durasi tahunan ini juga mengalami sedikit penyusutan jika dibandingkan dengan perolehan pada survei APJII tahun 2025 yang saat itu meraup angka 0,6%.
Dengan ini, mayoritas publik Indonesia cenderung lebih nyaman mengonsumsi paket data seluler dengan masa berlaku yang moderat, yaitu tidak terlalu mengikat seperti paket tahunan, namun juga tidak terlalu sempit layaknya langganan harian atau mingguan.
Tingginya minat dalam memilih durasi paket internet bulanan ini menunjukkan bahwa rentang 30 hari dianggap sebagai interval yang paling ideal dan seimbang. Jangka waktu ini dinilai paling tepat, baik untuk menakar alokasi pengeluaran bulanan maupun demi kepraktisan agar pengguna tidak perlu repot melakukan isi ulang kuota berkali-kali dalam sebulan.
Pengumpulan data dalam survei bertajuk Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Penggunaan Internet 2026 ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan melibatkan 8.700 responden yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi pada 1 Februari-15 Maret 2026. Metode penentuan sampel menggunakan multistage random sampling, dengan margin of error sebesar 1,1%.
Baca Juga: Mayoritas Publik RI Bayar Rp50–100 Ribu per Bulan untuk Internet Seluler
Sumber:
https://survei.apjii.or.id/